Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

KEBAHAGIAAN (HAPPINESS) BAGI WANITA LAJANG DEWASA

Menurut Aristoteles, dalam Ningsih, kebahagiaan merupakan tujuan utama dari eksistensi manusia. Setiap orang juga memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai guna pemenuhan kepuasan dalam kehidupannya. Keduanya, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup merupakan bagian dari konsep kesejahteraan subjektif yang mencakup aspek afektif dan kognitif manusia.[1] Beberapa tokoh yang mengkaji tentang kebahagiaan telah sepakat bahwa kebahagiaan bersifat subyektif dan masing-masing individu merupakan penilai terbaik mengenai kebahagiaan yang dirasakannya. Kebahagiaan didefinisikan sebagai kondisi psikologis yang positif, yang ditandai oleh tingginya kepuasan terhadap masa lalu, tingginya tingkat emosi positif, dan rendahnya tingkat emosi negatif.
Semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan itu sendiri dapat dicapai dengan terpenuhinya kebutuhan hidup dan ada banyak cara yang ditempuh oleh masing-masing individu. Bagi beberapa orang kebahagiaan mungkin berarti mempunyai kelimpahan materi atau mendapatkan semua yang diinginkan. Bagi sebagian orang lainnya adapula yang akan merasa bahagia, apabila bisa membuat orang lain bahagia atau memberikan manfaat kepada sesama manusia. Adapula yang menganggap dengan menikmati dan mensyukuri apa yang telah dimiliki dapat membuatnya merasakan kebahagiaan. Pada pendapat terakhir terlihat bahwa kebahagiaan berkaitan dengan rasa puas terhadap hidup, yaitu dengan mensyukuri apa yang dimiliki atau dengan kata lain individu akan bahagia bila merasa puas dengan hidupnya.
Pada  awal  kemunculan  riset  yang  serius  mengenai  kebahagiaan, yaitu pada tahun 1967, Warner Wilson meninjau pemahaman tentang kebahagiaan pada saat itu. Dia menyatakan kepada dunia psikologi bahwa orang-orang yang berbahagia adalah orang yang:
1.     Berpenghasilan besar
2.     Menikah
3.     Muda
4.     Sehat
5.     Berpendidikan
6.     Religius
7.     Jenis kelamin tidak berpengaruh
8.     Tingkat kecerdasan tidak berpengaruh.[2]
Menurut kata-kata klise kuno dalam banyak masyarakat yang berbunyi: “tak ada tempat bagi bujangan atau wanita kecuali sebagai pria ekstra pada pesta siang bolong atau sebagai baby-sitter bagi keluarga yang telah menikah”. Maksudnya, dalam bahasa populer pria atau wanita yang tidak kawin akan kesepian, tidak bahagia, dan menentang dorongan seksualnya, dan masa orangtua, afeksi lawan jenis yang menggiurkan dan gengsi yang dapat diperoleh dari hidup berkeluarga dan perkawinan.[3] Hurlock, dalam Yuliana, menyebutkan usia 30 tahun sebagai usia kritis bagi perempuan yang belum menikah. Bagi mereka, usia 30 tahun merupakan pilihan yang memiliki persimpangan. Biasanya hidup mereka sering diwarnai dengan kecemasan jika pada usia ketiga puluh belum juga menikah.[4]
Fenomena yang muncul saat ini adalah individu yang masih belum menikah atau bersatus lajang hingga usianya memasuki masa dewasa madya. Jika dilihat secara teori, menikah merupakan salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal, dan penundaan pernikahan ini dapat menghambat tugas perkembangan pada masa dewasa madya. Beberapa awal, studi klasik (Andrews & Withey, 1976; Bradburn, 1969; Campbell, Convers, & Rodgers, 1976; Gurin, Veroff, & Feld, 1960; Veroff, Douvan, & Kulka, 1981) diasumsikan bahwa sosiodemografi dan variabel struktural sosial, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, dan pendapatan, menjelaskan perbedaan individu dalam kebahagiaan. Orang yang telah menikah, yang berpendapatan lebih tinggi, orang-orang muda lebih bahagia daripada yang lain karena ketersediaan diferensial psikologis, sumber daya fisik, dan materi.[5]
Berdasarkan penelitian Wood, dkk (2007) dan Loewenstein, dkk (2004) dalam Christie, diketahui bahwa wanita lajang usia 35-65 tahun merasa lebih tertekan, tidak bahagia, tidak tercukupi, tidak puas, stres, depresi, dan tidak sehat secara emosi dibandingkan wanita menikah yang memiliki kualitas pernikahan baik, relasi sehat dengan suami, dan pernikahan yang bahagia. Perasaan-perasaan tersebut muncul akibat korelasi dengan faktor-faktor seperti kesepian, tidak mempunyai banyak teman, tidak terpenuhinya kebutuhan seksual, kesehatan, dan kemampuan bekerja.[6]
Untuk wanita lajang, pekerjaan yang menantang dan prestasi kerja dipengaruhi kesenangan dan penguasaan. Dukungan sosial dari teman adalah sangat penting, bersama dengan kekhawatiran tentang tidak memiliki hubungan yang intim. Meskipun wanita lajang melaporkan kenikmatan yang lebih rendah daripada rekan-rekan yang menikah, para wanita lajang di pekerjaan yang menantang dan bergengsi memiliki penguasaan yang tinggi dan dengan demikian memiliki kesempatan yang baik untuk mencapai kepuasan tinggi.[7]
Dalam kajian Diener dan Seligman tentang orang-orang yang sangat berbahagia,  semua orang (kecuali satu) dalam kelompok 10 % teratas kebahagiaan, saat itu sedang terlibat dalam hubungan romantis. Mungkin data paling meyakinkan tentang manfaat perkawinan adalah hasil pelbagai survey yang menyatakan bahwa orang yang menikah lebih berbahagia daripada orang yang tidak menikah. Dari orang dewasa yang menikah, 40 % menyatakan diri mereka “sangat berbahagia”, sedangkan hanya 23 % dari orang dewasa yang belum pernah  menikah mengatakan demikian. Ini berlaku pada setiap kelompok etnis yang dipelajari.  Perkawinan adalah faktor kebahagiaan yang lebih kuat dibanding kepuasan akan pekerjaan, keuangan, atau komunitas.[8]
Untuk perempuan dan laki-laki dalam pekerjaan yang sama dan keadaan perkawinan, perempuan terus menjadi lebih bahagia dari laki-laki. Di masa depan, perputaran dalam kebahagiaan relatif perempuan dan laki-laki di kemudian hari mungkin untuk melanjutkan, tetapi pergeseran akan sedikit lebih kecil di besarnya. Dalam sebuah studi terhadap 300 wanita lajang berkulit hitam, putih, dan Latin di daerah Los Angeles (Tucker & Mitchell-Kernan, 1998 dalam Papalia), anggota dari ketiga kelompok tersebut memiliki kesulitan menemukan pria yang memenuhi syarat dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang sama; tapi tidak seperti dua kelompok lainnya, wanita Afro-Amerika, yang usia rata-rata 40 tahun, tampaknya tidak terlalu terusik dengan situasi ini. Mungkin, sebagaimana yang diprediksi oleh model timing of event, hal ini dikarenakan mereka melihat melajang merupakan sesuatu yang normatif dalam kelompok etnis mereka.[9]
Pada saat sebagian orang muda, mereka terus melajang karena tidak mendapatkan pasangan yang tepat, yang lain melajang karena mereka memilih untuk melajang. Lebih banyak wanita pada saat ini yang mandiri, ditambah lagi makin berkurangnya tekanan sosial untuk menikah. Sebagian orang ingin bebas dalam mengambil risiko, pengalaman, dan membuat perubahan berpindah ke negara atau benua lain, mengejar karier, melanjutkan studi, atau melakukan karya kreatif tanpa harus khawatir bagaimana pencarian akan kepuasan diri mereka memengarui orang lain.
Sebagian dari mereka menikmati kebebasan seksual. Sebagian yang lain menemukan gaya hidup tersebut sebagai hal yang menarik. Sebagian lagi hanya menyukai hidup sendiri. Dan sebagian yang lain menunda atau membatalkan perkawinan karena akan berakhir pada penceraian. Penundaan masih masuk akal, karena sebagaimana yang akan kita lihat, semakin muda seseorang pada perkawinan pertamanya, semakin besar kecenderungan mereka untuk berpisah. Banyak orang lajang yang menyukai status mereka (Austrom & Hanel, 1985 dalam Papalia). Sebagian besar tidak kesepian (Cargan, 1981; Spurlock, 1990 dalam Papalia); mereka sibuk dan aktif serta merasa aman.[10]


[1] Agustin, D., Ningsih. 2013. Subjective Well Being Ditinjau dari Faktor Demografi (Status Pernikahan, Jenis Kelamin, Pendapatan), Jurnal Online Psikologi, Vol. 01, No. 02, hlm. 582.
[2] Seligman, M.E.P. 2005. Authentic Happiness Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif, Bandung: Mizan. hlm. 65.
[3] Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga. hlm. 299-300.
[4] Yuliana, T. 2006. Kecemasan dan Coping pada Wanita Karier Dewasa Madya yang Belum Menikah. hlm. 1.
[5] Kolarz, C.M., Mroczek, D.K. 1998. The Effect of Age on Positive and Negative Affect: a Developmental Perspective on Happiness, Journal of Personality and Sosial Psychology, Vol. 75, No. 5. hlm. 1333.
[6] Christie, Y., Hartanti., Nanik. 2013. Perbedaan Kesejahteraan Psikologis pada Wanita Lajang Ditinjau dari Tipe Wanita Lajang, Health Psychology, Vol. 2, No. 1. hlm. 3.
[7] Borders, L.D., Lewis, V.G. 1995. Life Satisfaction of Single Middle-Aged Professional Women, Journal of Counseling and Development, Vol. 74, No. 1. hlm. 3.
[8] Seligman, Op.Cit., hlm. 239.
[9] Feldman, R.D., Old, S.W., Papalia, D.E. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Edisi Kesembilan, Jakarta: Kencana. hlm. 701.
[10] Ibid.

No comments

Post a Comment

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter