Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

MENCARI ULAMA PEWARIS NABI

Posted on with No comments
Kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘alim. Kata ini berasal dari akar kata ‘alimaya’lamu – ‘ilman. Di dalam berbagai bentuknya, kata ini disebut 863 kali di dalam al-Qur’an. Masing-masing dalam bentuk fi’il mai 69 kali; fi’il muḍāri’ 338 kali; fi’il amr 27 kali dan selebihnya dalam bentuk isim dalam berbagai bentuknya sebanyak 429 kali.
Ibnu Faris di dalam Mu’jam Maqāyisil Lughah menyebutkan bahwa rangkain huruf ‘ain, lam, dan mim, pada asalnya memiliki arti yang menunjuk pada tanda atau jejak pada sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Dari akar kata ini, diantaranya lahir turunan kata berikut: al-‘alamah (tanda, yakni yang dikenal), al-‘Alam (bendera atau panji), dan al-‘ilm (tahu), lawan dari kata al-Jahl (tidak tahu).[1]
Kata ‘ulama jama’ dari kata ‘ālim (عالم) yang berarti mengetahui sedangkan kata (عليم) ‘alīm/Maha mengetahui merupakan Shīghāt Mubalaghah yaitu bentuk isim fa’il yang menunjukan arti sangat atau maha. Kata ālim (عالم) juga memiliki bentuk jama’ muzakar salim yakni ‘ālimun (عالمون) atau ‘ālimīn (عالمين) disebut lima kali di dalam al-Qur’an.[2] Digunakan, antara lain, untuk menunjuk kepada orang-orang yang mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah maupun tamil-tamil yang diungkapkannya, serta mereka yang mampu mena’wilkan mimpi. Misalnya di dalam al-Qur’an surat al-‘Ankabūt ayat 43,[3]ālimun disebutkan dalam konteks pengecualian bahwa yang bisa memahami perumpamaan-perumpamaan yang dibuat Allah bagi manusia hanyalah al-‘Ālimūn (orang-orang yang mengetahui).[4]
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) ulama diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.[5] Dalam Ensiklopedi Islam, definisi ulama adalah orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah.[6]
Adapun bila kata ulama itu dihubungkan dengan perkataan yang lain, maka artinya hanya mengandung arti terbatas dalam hubungannya itu. Misalnya “ulama fiqih” artinya orang mengerti tentang ilmu fiqih, “ulama kalam” artinya orang yang mengerti tentang ilmu kalam, “ulama hadi”, artinya orang yang mengerti tentang ilmu hadi, “ulama tafsir”, artinya orang yang mengerti tentang ilmu tafsir, dan seterusnya, umpamanya ulama syiyasyi (politik), ulama bahasa, ulama nahwu, dan lain sebagainya.
Menurut bahasa yang berlaku sampai sekarang ini di Indonesia ini, kata ulama atau alim ulama diartikan untuk orang yang ahli tentang agama Islam, yakni orang yang mendalam ilmunya dan pengetahuannya tentang agama Islam beserta cabang-cabannya dalam urusan agama Islam, seperti ilmu tafsir, ilmu hadi, ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab termasuk alat-alatnya yang disebut paramasastra seperti ilmu orof, nahwu, ma’ani, bayān, badī’, balaghah, dan sebagainya. Jelasnya orang yang faham dan mendalam ilmunya tentang agama Islam yang meliputi ‘aqidah, syari’ah, mu’amalah, akhlak.[7]
Betapapun semakin sempitnya pengertian ulama dari dahulu sampai sekarang, namun ciri khasnya tetap tidak dilepaskan, yakni ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu diajarkan dalam rangka khasyah (adanya rasa takut) kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seorang ulama harus orang Islam. Seseorang yang baru memiliki ilmu keagamaan (keislaman) seperti para ahli ketimuran (orientalis) tidak dikatakan ulama.[8]
Dari beberapa penjelasan di atas, menurut hemat penulis bahwa hakikat dari ulama adalah orang yang berilmu dan mempunyai kekuatan spiritual yang diwujudkan dalam bentuk ketakutan kepada Allah. Orang yang berilmu (ilmu agama dan ilmu kealaman) dan tidak mempunyai rasa takut kepada Allah akan tanggung jawab sebagai manusia yang berilmu yang diberi karunia oleh Allah kelebihan intelektual, maka bukan ulama yang dimaksudkan dalam al-Qur’an.
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai ulama, penulis mengkelompokkan ulama menjadi dua bagian, hal ini sejalan dengan apa yang telah  dikemukakan  oleh  Imam  al-Ghazali, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’).[9]
1.     Ulama Akhirat
Ulama akhirat adalah orang yang mewarisi ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang diwariskan oleh para nabi. Mereka juga mewarisi semangat untuk berdakwah dan ber-amar ma’rūf nahī mungkar, berjihad di jalan Allah, dan berani menanggung resiko yang harus dihadapinya demi menggapai ridha Allah. Seperti inilah amalan yang dahulu diwariskan oleh para nabi. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju jalan surga. Sungguh malaikat-malaikat merebahkan sayap-sayapnya sebagai wujud keriaan mereka kepada pencari ilmu. Sungguh seorang alim akan dimintakan ampunan oleh seluruh makhluk langit maupun bumi, bahkan ikan-ikan memintakan ampun untuknya. Sesungguhnya keutamaan ulama atas ahli ibadah ialah seperti keutamaan (cahaya) rembulan atas (cahaya) bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.  Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambilnya bagian yang banyak.[10]
Ibnu Qoyyim berkata: “dalam hal ini terdapat perintah dan bimbingan kepada umat Islam untuk menaati, menghormati, mengagungkan dan memuliakan (ulama), sebab mereka pewaris para nabi yang memiliki hak untuk diperlakukan seperti ini.[11]
Menurut Badruddin Hsubky bahwa ciri-ciri ulama akhirat ialah:
Pertama, tidak memperdagangkan ilmunya untuk kepentingan dunia. Sebetulnya ulama sejatinya tidak akan mencintai dunia. Dengan kecintaannya kepada ilmu, dunia tidak lagi berarti baginya. Pada kenyataannya, tidak jarang kita melihat ulama yang mengorbankan agama dan ilmunya untuk kepentingan dunia. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk mencari keridhaan Allah, ia mempelajari ilmu-ilmu itu untuk memperoleh harta-harta duniawi, ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”
Kedua, Perilakunya sejalan dengan ucapannya dan tidak menyuruh orang berbuat kebaikan sebelum ia mengamalkannya. Ulama yang diharapkan menjadi panutan dan contoh bagi umatnya jangan sampai perilakunya bertolak belakang dengan ucapannya, mereka pandai untuk berbicara akan tetapi tidak mampu untuk mengamalkannya sendiri. Allah SWT memberi peringatan kepada kita dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff [61]: 2-3)
Ketiga, Mengajarkan ilmunya untuk kepentingan akhirat, Ulama yang senantiasa memperjuangkan agama dan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar serta mengajak ke arah kebaikan dengan perantara mengajarkan disiplin ilmu kepada umatnya, hal ini yang bertujuan untuk syiar dan memperoleh kepentingan akhirat.
Keempat, Menjauhi godaan penguasa jahat. Larangan bagi para ulama untuk mendatangi pintu penguasa bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat. Larangan yang dimaksud adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk membenarkan tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas.  Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.
Kelima, Senantiasa khasyah kepada Allah, takim atas segala kebesaran-Nya, tawau’, hidup sederhana, dan berakhlak mulia terhadap Allah maupun sesamanya. Tanggung jawab ulama dalam keilmuan mereka sepatutnya memberi contoh atau teladan dalam semua aspek kehidupan, termasuk kaedah bermasyarakat dan bersosialisasi. Mereka dituntut menampilkan peribadi yang baik, jujur dan santun dalam tutur kata.
Bahasa kasar dan berbelit-belit dilarang keras, karena hasilnya akan menyebabkan khalayak keliru, aib dan marah. Luka yang diakibatkan oleh lidah hakikatnya lebih parah daripada yang diakibatkan oleh pisau. Sebaliknya, tutur kata dan perilaku yang membimbing akan melahirkan nilai-nilai kerjasama dan persefahaman sehingga setiap diri manusia disaluti kasih sayang dan berjiwa pemaaf. Itulah akhlak mulia.
Belum layak diberikan gelar ulama jika jiwa seseorang itu belum mencapai tingkatan khasyah yang benar-benar takut kepada Allah, bersikap terlalu kasar dan bengis atau memandang rendah terhadap orang awam. Apalagi jika mereka selalu plin-plan dalam percakapan atau sentiasa berubah pendirian demi memenuhi kepentingan diri atau kumpulan tertentu. Ulama yang berperilaku sombong dan lupa diri kerana ilmu yang dimilikinya tidak disusuli dengan amalan, atau menggunakan ilmu bukan atas dasar kebenaran, maka orang tersebut disebut bukan ulama melainkan orang munafik.
Keenam, Tidak cepat mengeluarkan fatwa sebelum ia menemukan dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak sedikit dikalangan kita ulama yang mudah untuk berfatwa. Bahkan mereka tidak segan menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mereka ketahui karena malu pamor mereka turun. Oleh karenanya, ulama diharapkan untuk berhati-hati dalam berfatwa, jangan sampai keluar dari dua sumber hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan sunnah, mengingat maslahat umat lebih penting daripada urusan pribadinya.[12]
2.     Ulama Dunia (Ulama Su’)
Ulama su’ adalah ulama yang jelek. Tetapi pada umumnya orang memberi arti ulama su’ adalah ulama yang keji atau yang jahat dan tidak mengikuti jejak Nabi. Kategori ulama su’ bermacam-macam modelnya. Ada yang menjadi tukang fitnah di muka bumi, ada yang sebagai penjilat, ada yang menjual agama dan aqidah, demi hidup dengan sesuap nasi, serta ada yang rusak akhlaknya.[13] Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku ialah para imam yang menyesatkan” (HR. Abū Dawud)[14]
Hadits ini menggunakan konteks kalimat dengan kata innamaă yang berarti pembatasan dengan tujuan untuk menyatakan keseriusan rasa takut Nabi atas musibah yang akan menimpa umatnya karena ulah para imam yang sesat. Hadits ini jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah telah membuat salah satu klasifikasi ulama, yaitu muillūn: menyesatkan.  Kriteria mereka adalah sebagaimana tertera di dalam hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab ahih-nya, yaitu hadits riwayat Hudzaifah Ibnul Yaman bahwa Rasulullah bersabda:
“Sepeninggalku nanti akan muncul para imam yang tidak mengambil petunjuk dariku dan tidak melaksanakan sunnahku. Dan akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya seperti hati setan di dalam raga manusia”. (HR. Imam Muslim).[15]
Maksudnya adalah para penguasa, ulama dan ahli ibadah yang memimpin manusia tanpa dasar ilmu sehingga berakibat menyesatkan manusia.[16] Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:
“Dan diantara mereka banyak yang menyesatkan dengan hawa nafsu mereka tanpa dasar ilmu. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-An’am [6]: 119).
Dalam ayat yang lain Alah swt berfirman:
“Dan sungguh sebelum mereka telah ada banyak orang yang sesat.” (QS. a-affat [37]: 71).
Dari pengertian di atas Umar Hasyim menjelaskan bahwa ulama su’ mempunyai kriteria sebagai berikut: 
1.   Ulama yang menyembunyikan kebenaran
Allah swt berfirman:
 “Sesungguhnya orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam al-kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknati kecuali mereka yang telah bertobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran) maka Aku menerima tobat mereka dan Aku-lah yang Maha menerima tobat lagi Maha penyayang.”(QS. al-Baqarah [2] ayat 159-160).20
Ayat ini menerangkan tentang salah satu golongan ulama, yaitu mereka yang menipu umat dengan jalan menyembunyikan ilmu yang mereka peroleh dari Rasul. Ilmu yang dimaksud adalah berupa tanda-tanda yang menunjukkan kepada tujuan yang benar, dan hidayah yang bermanfaat untuk hati. Mereka menyembunyikan ilmu setelah Allah menerangkan kepada manusia melalui lisan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka berhak menerima ancaman keras yang setimpal dengan perbuatan mereka sendiri.
2.   Ulama yang menyelewengkan kebenaran
Allah berfirman:
“Apakah kamu mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahujnya. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata kami pun telah beriman, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang Mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu”, supaya dengan demikian dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidaklah kamu mengerti. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu ia mengatakannya “ini dari Allah” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2] : 75-79).21
Ayat-ayat tersebut membeberkan segolongan orang-orang yang mendapatkan gelar ulama, tetapi mereka justru menyelewengkan gelarnya dengan dalil-dalil syar’i. Mereka mengubah berbagai ketetapan hukum yang sudah baku demi tercapainya tujuan busuk mereka. Kondisi ini tidak hanya khusus untuk umat sebelum kita, tetapi mencakup setiap orang yang menyelewengkan kebenaran demi niatan busuk.
Imam Qurṭūbī menjelaskan bahwa ayat ini dan sebelumnya berisi tentang peringatan dan ancaman keras bagi siapa saja yang mengubah dan mengganti serta menambah sesuatu yang berkaitan dengan syari’at. Siapa saja yang mengganti, mengubah, atau mengganti sesuatu yang baru dalam agama Allah yang bukan bagian dari agama dan tidak ada keleluasaan untuk menambah maka mereka masuk ke golongan manusia yang mendapat ancaman keras dan azab yang pedih sebagaimana disebutkan dalam ayat ini.[17]
3.   Ulama berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya
Allah berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti kedelai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS.  al-Jumu’ah [62]: 5).23
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau menafsirkan kata “al-Asfar”, artinya kitab-kitab. Allah telah mengumpamakan orang-orang yang membaca kitab namun tidak mau mengikuti isinya, seperti keledai yang mengangkut kitab Allah yang berat, ia tidak mengetahui isinya.[18]
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafisrnya tentang ayat ini bahwa celaan terhadap orang Yahudi yang telah diberi kitab Taurat. Mereka diperintahkan untuk mengamalkan isinya tetapi mereka tidak mengamalkannya. Dalam hal itu, perumpamaan mereka adalah seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab yang berat. Maksudnya, mereka seperti keledai yang mengangkut kitab tetapi tidak mengerti apa isinya, keledai hanya akan membawanya begitu saja tanpa mengetahui apa sebenarnya yang telah ia bawa. Oleh sebab itu, apabila seorang ‘ulamā dalam mengemban tugas sebagai pewaris para nabi, akan tetapi mereka enggan untuk mengamalkan ilmunya kepada ummatnya, maka mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang telah Allah firmankan dalam al-Kitab, yaitu seperti keledai.[19]




[1] Perpustakaan Nasional; Katalog dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata, Jakarta: Lentera Hati, Cetakan I, 2007, hal. 1017-1018
[2] Muhammad Fuad Abdul Bāqī, Mu’jam Mufahras li Al-Fāi Al-Qur’an, Beirut: Dārul Fikr, 1891, hal. 475
[3] M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya, Tanggerang: Lentera Hati, Cetakan I, 2010, hal. 402
[4] Perpustakaan Nasional; Katalog dalam Terbitan (KDT), Op. Cit, hal. 1019
[5] Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama Edisi IV, 2008, hal. 1520
[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cetakan Pertama, 1993, hal. 120
[7] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Surabaya: PT. Bina Ilmu, Cetakan Kedua, 1983, hal. 15
[8] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Op. Cit, hal. 121
[9] Badruddin Hsubky, Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman, Jakarta: Gema Ihsani, Cetakan Pertama, 1995, hal. 57
[10] Muhammad bin 'Isa al-Tirmidzī, Sunan Tirmidzī, Juz 3, Lebanon: Dār al-Kutub al-'Ilmiyah-Beirut, 2011, hal. 477-478.
[11] Sufyan Al-Jazairy, Anaful Ulama Wa Auofuhum (Potret Ulama Antara Yang Konsisten & Penjilat), Terj. Muhammad Saffuddin, Solo: Jazera, Cetakan Kedua, 2012, hal. 37.
[12] Badruddin Hsubky, Dilema Ulama Dalam Perubahan Zaman, Op. Cit, hal. 57-58
[13] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Op. Cit, hal. 31
[14] Abi Dāwud Sulaiman bin Al-Asyats bin Ishāq bin Basyīr, Sunan Abī Dawud, juz 2, al-Qāhirah Mesir: Dāru Ibnu Haitsam, 2007, hal. 342
[15] Abi Al-Husain bin Al-Hajaj Ibnu Muslim Al-Qusyairī An-Naisābūri, ahih  Muslim, Jilid 2, Beirut: Dār Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2011, hal. 160
[16] Sufyan Al-Jazairy, Anaful Ulama Wa Auofuhum (Potret Ulama Antara  Yang Konsisten & Penjilat), Op. Cit, hal. 57-58
[17] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang  Pandang  Sejarah  Para Ulama), Op. Cit, hal. 47-48
[18] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang  Pandang  Sejarah  Para Ulama), Op. Cit, hal. 52.
[19] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Op. Cit, hal. 52.
READ MORE

KEBAHAGIAAN (HAPPINESS) BAGI WANITA LAJANG DEWASA

Posted on with No comments
Menurut Aristoteles, dalam Ningsih, kebahagiaan merupakan tujuan utama dari eksistensi manusia. Setiap orang juga memiliki harapan-harapan yang ingin dicapai guna pemenuhan kepuasan dalam kehidupannya. Keduanya, kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup merupakan bagian dari konsep kesejahteraan subjektif yang mencakup aspek afektif dan kognitif manusia.[1] Beberapa tokoh yang mengkaji tentang kebahagiaan telah sepakat bahwa kebahagiaan bersifat subyektif dan masing-masing individu merupakan penilai terbaik mengenai kebahagiaan yang dirasakannya. Kebahagiaan didefinisikan sebagai kondisi psikologis yang positif, yang ditandai oleh tingginya kepuasan terhadap masa lalu, tingginya tingkat emosi positif, dan rendahnya tingkat emosi negatif.
Semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan itu sendiri dapat dicapai dengan terpenuhinya kebutuhan hidup dan ada banyak cara yang ditempuh oleh masing-masing individu. Bagi beberapa orang kebahagiaan mungkin berarti mempunyai kelimpahan materi atau mendapatkan semua yang diinginkan. Bagi sebagian orang lainnya adapula yang akan merasa bahagia, apabila bisa membuat orang lain bahagia atau memberikan manfaat kepada sesama manusia. Adapula yang menganggap dengan menikmati dan mensyukuri apa yang telah dimiliki dapat membuatnya merasakan kebahagiaan. Pada pendapat terakhir terlihat bahwa kebahagiaan berkaitan dengan rasa puas terhadap hidup, yaitu dengan mensyukuri apa yang dimiliki atau dengan kata lain individu akan bahagia bila merasa puas dengan hidupnya.
Pada  awal  kemunculan  riset  yang  serius  mengenai  kebahagiaan, yaitu pada tahun 1967, Warner Wilson meninjau pemahaman tentang kebahagiaan pada saat itu. Dia menyatakan kepada dunia psikologi bahwa orang-orang yang berbahagia adalah orang yang:
1.     Berpenghasilan besar
2.     Menikah
3.     Muda
4.     Sehat
5.     Berpendidikan
6.     Religius
7.     Jenis kelamin tidak berpengaruh
8.     Tingkat kecerdasan tidak berpengaruh.[2]
Menurut kata-kata klise kuno dalam banyak masyarakat yang berbunyi: “tak ada tempat bagi bujangan atau wanita kecuali sebagai pria ekstra pada pesta siang bolong atau sebagai baby-sitter bagi keluarga yang telah menikah”. Maksudnya, dalam bahasa populer pria atau wanita yang tidak kawin akan kesepian, tidak bahagia, dan menentang dorongan seksualnya, dan masa orangtua, afeksi lawan jenis yang menggiurkan dan gengsi yang dapat diperoleh dari hidup berkeluarga dan perkawinan.[3] Hurlock, dalam Yuliana, menyebutkan usia 30 tahun sebagai usia kritis bagi perempuan yang belum menikah. Bagi mereka, usia 30 tahun merupakan pilihan yang memiliki persimpangan. Biasanya hidup mereka sering diwarnai dengan kecemasan jika pada usia ketiga puluh belum juga menikah.[4]
Fenomena yang muncul saat ini adalah individu yang masih belum menikah atau bersatus lajang hingga usianya memasuki masa dewasa madya. Jika dilihat secara teori, menikah merupakan salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal, dan penundaan pernikahan ini dapat menghambat tugas perkembangan pada masa dewasa madya. Beberapa awal, studi klasik (Andrews & Withey, 1976; Bradburn, 1969; Campbell, Convers, & Rodgers, 1976; Gurin, Veroff, & Feld, 1960; Veroff, Douvan, & Kulka, 1981) diasumsikan bahwa sosiodemografi dan variabel struktural sosial, seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, dan pendapatan, menjelaskan perbedaan individu dalam kebahagiaan. Orang yang telah menikah, yang berpendapatan lebih tinggi, orang-orang muda lebih bahagia daripada yang lain karena ketersediaan diferensial psikologis, sumber daya fisik, dan materi.[5]
Berdasarkan penelitian Wood, dkk (2007) dan Loewenstein, dkk (2004) dalam Christie, diketahui bahwa wanita lajang usia 35-65 tahun merasa lebih tertekan, tidak bahagia, tidak tercukupi, tidak puas, stres, depresi, dan tidak sehat secara emosi dibandingkan wanita menikah yang memiliki kualitas pernikahan baik, relasi sehat dengan suami, dan pernikahan yang bahagia. Perasaan-perasaan tersebut muncul akibat korelasi dengan faktor-faktor seperti kesepian, tidak mempunyai banyak teman, tidak terpenuhinya kebutuhan seksual, kesehatan, dan kemampuan bekerja.[6]
Untuk wanita lajang, pekerjaan yang menantang dan prestasi kerja dipengaruhi kesenangan dan penguasaan. Dukungan sosial dari teman adalah sangat penting, bersama dengan kekhawatiran tentang tidak memiliki hubungan yang intim. Meskipun wanita lajang melaporkan kenikmatan yang lebih rendah daripada rekan-rekan yang menikah, para wanita lajang di pekerjaan yang menantang dan bergengsi memiliki penguasaan yang tinggi dan dengan demikian memiliki kesempatan yang baik untuk mencapai kepuasan tinggi.[7]
Dalam kajian Diener dan Seligman tentang orang-orang yang sangat berbahagia,  semua orang (kecuali satu) dalam kelompok 10 % teratas kebahagiaan, saat itu sedang terlibat dalam hubungan romantis. Mungkin data paling meyakinkan tentang manfaat perkawinan adalah hasil pelbagai survey yang menyatakan bahwa orang yang menikah lebih berbahagia daripada orang yang tidak menikah. Dari orang dewasa yang menikah, 40 % menyatakan diri mereka “sangat berbahagia”, sedangkan hanya 23 % dari orang dewasa yang belum pernah  menikah mengatakan demikian. Ini berlaku pada setiap kelompok etnis yang dipelajari.  Perkawinan adalah faktor kebahagiaan yang lebih kuat dibanding kepuasan akan pekerjaan, keuangan, atau komunitas.[8]
Untuk perempuan dan laki-laki dalam pekerjaan yang sama dan keadaan perkawinan, perempuan terus menjadi lebih bahagia dari laki-laki. Di masa depan, perputaran dalam kebahagiaan relatif perempuan dan laki-laki di kemudian hari mungkin untuk melanjutkan, tetapi pergeseran akan sedikit lebih kecil di besarnya. Dalam sebuah studi terhadap 300 wanita lajang berkulit hitam, putih, dan Latin di daerah Los Angeles (Tucker & Mitchell-Kernan, 1998 dalam Papalia), anggota dari ketiga kelompok tersebut memiliki kesulitan menemukan pria yang memenuhi syarat dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang sama; tapi tidak seperti dua kelompok lainnya, wanita Afro-Amerika, yang usia rata-rata 40 tahun, tampaknya tidak terlalu terusik dengan situasi ini. Mungkin, sebagaimana yang diprediksi oleh model timing of event, hal ini dikarenakan mereka melihat melajang merupakan sesuatu yang normatif dalam kelompok etnis mereka.[9]
Pada saat sebagian orang muda, mereka terus melajang karena tidak mendapatkan pasangan yang tepat, yang lain melajang karena mereka memilih untuk melajang. Lebih banyak wanita pada saat ini yang mandiri, ditambah lagi makin berkurangnya tekanan sosial untuk menikah. Sebagian orang ingin bebas dalam mengambil risiko, pengalaman, dan membuat perubahan berpindah ke negara atau benua lain, mengejar karier, melanjutkan studi, atau melakukan karya kreatif tanpa harus khawatir bagaimana pencarian akan kepuasan diri mereka memengarui orang lain.
Sebagian dari mereka menikmati kebebasan seksual. Sebagian yang lain menemukan gaya hidup tersebut sebagai hal yang menarik. Sebagian lagi hanya menyukai hidup sendiri. Dan sebagian yang lain menunda atau membatalkan perkawinan karena akan berakhir pada penceraian. Penundaan masih masuk akal, karena sebagaimana yang akan kita lihat, semakin muda seseorang pada perkawinan pertamanya, semakin besar kecenderungan mereka untuk berpisah. Banyak orang lajang yang menyukai status mereka (Austrom & Hanel, 1985 dalam Papalia). Sebagian besar tidak kesepian (Cargan, 1981; Spurlock, 1990 dalam Papalia); mereka sibuk dan aktif serta merasa aman.[10]


[1] Agustin, D., Ningsih. 2013. Subjective Well Being Ditinjau dari Faktor Demografi (Status Pernikahan, Jenis Kelamin, Pendapatan), Jurnal Online Psikologi, Vol. 01, No. 02, hlm. 582.
[2] Seligman, M.E.P. 2005. Authentic Happiness Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif, Bandung: Mizan. hlm. 65.
[3] Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Jakarta: Erlangga. hlm. 299-300.
[4] Yuliana, T. 2006. Kecemasan dan Coping pada Wanita Karier Dewasa Madya yang Belum Menikah. hlm. 1.
[5] Kolarz, C.M., Mroczek, D.K. 1998. The Effect of Age on Positive and Negative Affect: a Developmental Perspective on Happiness, Journal of Personality and Sosial Psychology, Vol. 75, No. 5. hlm. 1333.
[6] Christie, Y., Hartanti., Nanik. 2013. Perbedaan Kesejahteraan Psikologis pada Wanita Lajang Ditinjau dari Tipe Wanita Lajang, Health Psychology, Vol. 2, No. 1. hlm. 3.
[7] Borders, L.D., Lewis, V.G. 1995. Life Satisfaction of Single Middle-Aged Professional Women, Journal of Counseling and Development, Vol. 74, No. 1. hlm. 3.
[8] Seligman, Op.Cit., hlm. 239.
[9] Feldman, R.D., Old, S.W., Papalia, D.E. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Edisi Kesembilan, Jakarta: Kencana. hlm. 701.
[10] Ibid.
READ MORE

ZAMAN EDAN

Posted on with No comments
Zaman edan dilukiskan sebagai keadaan hilangnya kebenaran hakiki, merosotnya tatanan moral masyarakat, tidak ada lagi yang dapat dijadikan panutan, layaknya seperti halnya kedaan nihilisme yang diramalkan oleh Nietzsche. Keadaan di mana nilai-nilai mulai pudar dan runtuh, manusia yang semakin kehilangan kemanusiaannya, Tuhan sebagai panutan sudah mati, tidak dapat dijadikan pedoman.
Kegilaan ini dikonstruksi oleh keadaan yang terjadi di sekitarnya. Jika Nietzsche menganggap nihilisme terjadi akibat runtuhnya dominasi jaminan absolut yakni Tuhan, maka meurut Ranggawarsita zaman edan disebabkan oleh semakin pudarnya kasekten dari seorang Raja atau pemimpin karena sudah meninggalkan kebenaran sejati, berlindung di balik wajah  kekuasaan, yang mengakibatkan semakin semrawut dan morat-maritnya keadaan rakyatnya. Kegilaan zaman ini bisa dilihat dalam berbagaikategorinya, yakni:
1.     Keadaan Negara yang telah rusak;
Rusaknya sebuah Negara tentu dikarenakan rusaknya aparat yang mengurusinya.  Ranggawarsita menyebutkan bahwa saat zaman edan adalah ketika para Rajanya, Patih, dan seluruh aparatur Negara sudah berlaku tidak jujur, suka menfitnah, gemar menjilat, piawai bersilat lidah, dan ketagihan korupsi. Mereka tidak lagi menaati aturan-aturan yang termaktub. Keruntuhan moral inilah yang menyebabkan akan datangnya zaman kutukan (Kala Bendhu).
Keadaan yang terjadi pada saat Ranggawarsita masih hidup, tidak lebih baik dari keadaan sekarang, bahkan cenderung lebih parah. Kasus korupsi yang terjadi di Negara ini sudah begitu mendarah daging di setiap elemen aparatur Negara, baik di tingkat yang paling bawah sampai paling atas. Tidak terhitung banyaknya kasus yang melibatkan mereka. Lebih parahnya kasus-kasus tersebut seperti menguap tidak ada penyelesaiannya.
2.     Banyak orang meninggalkan aturan;
Aturan, hukum, perundang-undangan, sudah tidak lagi bermakna. Moralitas tidak lagi bernilai. Hukum sudah tidak bisa lagi ditegakkan. Hukum bisa dibeli pada saat sekarang.  Kebenaran bisa diputar-balikkan, diproduksi, dan dipaksakan. Praktek-prakter korupsi, manipulasi, yang terjadi di Negara ini dan semakin meluasnya kejahatan-kejahatan yang terjadi di masyarakat, menunjukkan orang-orang saat itu sudah meninggalkan aturan-aturan yang ada.
3.     Kehidupan masyarakat semakin kacau
Keadaan Negara yang telah rusak, dan banyaknya orang-orang yang sudah meninggalkan aturan, menjadikan kehidupan masyarakat menjadi semrawut, morat-marit, penuh kekacauan. Masyarakat benar-benar mengalami kekacauan. Mereka seperti mendapat kutukan dari Kala Bendhu (kemarahan), sebab mengejar kepentingan pribadi atau golongan. Yang ada hanyalah hukum rimba, siapa yang kuat adalah yang menang. Watak angkara murka ini menguasai keadaan, orang sudah lupa akan arti persahabatan dan kemanusiaan. Masing-masing hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri sendiri maupun golongan.
4.     Benar dan salah tidak dapat lagi dibedakan
Ini menjadi semacam puncak dari kegilaan zaman itu sendiri. Ketika sudah tidak dapat lagi dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia berada dalam titik nadir.  Semua nilai dibalikkan sesuai kepentingan tertentu, sampai agamapun dijadikan sebagai alat. Kebenaran seakan pudar, semu, absurd. Kebenaran dikendalikan oleh kelompok-kelompok tertentu, demi tujuan tertentu pula. Orang-orang yang bersikap sopan santun jadi terbelakang, dan sebaliknya yang ada hanyalah kepentingan-kepentingan, hawa nafsu, menjadi utama.
Kategori-kategori kegilaan atau keedanan di atas, sebenarnya bermuara pada satu titik, yakni kekuasaan. Kekuasaan inilah yang pada akhirnya menjadi kendali, pusat dari kebenaran itu sendiri, kebenaran-kebenaran itu dibentuk, dan dengan kebenaran seseorang menguasai dan menciptakan sebuah peradaban.
Kekuasaan di sini sangat erat kaitannya dengan konstruk kebenaran-kebenaran yang didasari oleh wacana-wacana atau pengetahuan yang terbentuk di dalam masyarakat itu sendiri. Wacana-wacana yang sedang berkembang atau dikembangkan di masyarakat menjadi semacam senjata ampuh untuk ‘menguasai’ sebuah tatanan masyarakat. Hal ini dikarenakan kekuasaan selalu mempunyai hubungan timbal balik dengan sebuah wacana atau pengetahuan. Seperti yang dikatakan Foucault:

“Kekuasaaan menghasilkan pengetahuan. Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait, tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandalkan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan”.
Sebutan “gila” disorongkan oleh wacana yang berkembang terhadap orang lain atau kelompok yang berbeda  dengannya. Wacana-wacana inilah yang sebenarnya memangku sebuah kekuasaan. Dan lewat wacana yang dibentuk inilah kebenaran juga dapat diproduksi.  Dan melalui kebenaran timbullah efek kuasa dan menguasai.

Kuasa apapun bentuknya, menjadi elemen penting dalam pembentukan sebuah peradaban. Rakyat ataupun pengikut dipaksa untuk mengikuti kuasa tersebut, bahkan juga Sang Raja. Akibatnya, seluruh tatanan kehidupan menjadi rusak dan absurd.
READ MORE

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter