Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

SEMUA WALI KENAL DENGAN GUS DUR

Posted on with 1 comment

Pada suatu ketika Habibana al-Walid Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri Tebet memanggil muridnya yang paling senior yaitu KH. Fakhrurrozi Ishaq dan Habib Idrus Jamalullail mengenai hal penghinaan yang dilakukan kedua muballigh itu kepada Gus Dur yang pada saat itu telah menjadi Presiden RI ke-4.
Menurut penuturan Ustadz Anto Djibril yang ketika itu hadir di pengajian hari Senin pagi itu al-Walid bertanya kepada jama’ah yang hadir, “Aina Rozi wa Idrus bin Alwi…?” Dan keduanya yang hadir mengaji sama menyahut, “Maujud ya habib.” Lalu Habibana berkata, “Ente berdua jangan pulang ya, ana ada perlu.”
“Ya Rozi ya Ye’ Idrus, ente berdua kalau jadi muballigh gak usah kata-kata kotor sama orang, apalagi sama cucunya KH. Hasyim Asy’ari itu. Ente tahu yang namanya Gus Dur itu siapa? Biar ente faham ya… seluruh Auliya’illah min Masyariqil Ardhi ilaa Maghoribiha, kenal dengan Gus Dur dan ente ini siapa berani mencela-mencela dia. Dan ana sangat malu kalau ada murid atau orang yg pernah belajar sama ana menghina Gus Dur dan juga menghina lainnya. Kalau ente belum bisa jadi seperti Gus Dur, diam lebih baik. Kalau sudah bisa jadi seperti Gus Dur, ngomong dah sana sampe berbusa-berbusa.”
Maka sejak mendapat teguran dari al-Walid itulah, KH. Fakhrurrozi Ishaq dan Habib Idrus bin Alwi Jamalullail bungkam kalau pas bicara masalah Gus Dur.
Diperoleh keterangan ternyata Gus Dur adalah murid langsung dari Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang. Gus Dur waktu kecil diajak ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim. Dan di Jakarta beliau sempat mengkhatamkan 9 kitab di hadapan Habib Ali al-Habsyi.
Sewaktu masih menjabat presiden, Gus Dur pernah hadir di Majelis Ta’lim Kwitang. Beliau datang ba’da shubuh tanpa pengawalan ketat dan Gus Dur duduk ikut pembacaan Asmaul Husna sampai selesai.
“Aduh Pak Presiden, kalau kesini kasih kabar dong,” kata Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Habsyi. “Mending begini bib, kalo kasih kabar ya nanti kasihan jama’ah bisa jadi repot,” jawab Gus Dur.
Dan setahun sebelum Gus Dur wafat, beliau mau ziarah di waktu Maulid di Kwitang, lalu Habib Abdurrahman al-Habsyi berkata, “Kalau ada yang tahu Gus Dur kemari, cepat kabarin ana ya.”
Tapi dari pihak Gus Dur tidak ada kabarnya dan Yenni Wahid waktu dihubungi tidak menjawab. Dan ternyata Gus Dur nyarkub (ziarah) di jam 11 malam dan itu menurut penuturan pengurus Masjid ar-Riyadh. Begitulah Gus Dur, beliau orangnya tidak mau merepotkan orang lain.
Semoga sepenggal kisah Gus Dur dengan beberapa habaib sepuh ibukota ini bisa menambah kecintaan kita kepada beliau-beliau. Lahumul Fatihah.

*Seluruh Wali Di Muka Bumi ini Kenal Dengan Gus Dur, dari Wangsit: Sarkub Papua Abdu L Wahab, S.Kub, Sanad shahih Ustadz Anto Djibril*

Berikut Videonya, silahkan disimak:


READ MORE

PESUGIHAN SAKTI ALA RASULULLAH

Posted on with No comments

Telah kewarid datangnya banyak hadits yang Shahih dari Nabi Muhammad yang isinya tentang perintah beliau kepada sebagian sahabat untuk membaca wirid-wirid tertentu supaya rejekinya lapang. Sebagian ahli ma'rifat telah berkata bahwa hadits yang berisi perintah-perintah tersebut memang MUJARRAB untuk MELAPANGKAN REJEKI, baik rejeki DZAHIR maupun rejeki BATHIN.

Adapun bunyi wirid yang diperintahkan Nabi adalah sebagai berikut:

لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ

(setiap hari dibaca 100 kali).

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

(setiap hari dibaca 100 kali).


Para Syeikh menganggap baik bila wirid-wirid tersebut dibaca diantara shalat sunnah Shubuh dan shalat fardhu Shubuh. Seandainya terlewatkan, artinya tidak bisa dibaca pada waktu itu, maka wirid-wirid tersebut dibaca setelah melakukan shalat Shubuh dan sebelum munculnya matahari. Namun, bila sampai terlewatkan juga maka supaya wirid-wirid itu dibaca ketika zawal, artinya ketika matahari telah bergeser dari titik puncaknya. Tidak layak dan tidak pantas bila seorang hamba mengosongkan harinya dari membaca wirid-wirid tersebut. (Haasyiyah I'anah al-Thaalibiin, juz. 1, hlm. 247)

Untuk videonya silahkan lihat disini:


READ MORE

TEKA-TEKI S3KS

Posted on with 2 comments

S3ks sebagai urusan kelamin tak pernah kehabisan atau kehilangan daya sensasionalnya bagi siapapun dan di zaman apapun. Selalu saja ada perkembangan-perkembangan baru dalam fenomena s3ks sebuah masyarakat, meski s3xual act yang mendasar sebenarnya hanya begitu-begitu saja. Tapi memang manusia seluruhnya adalah s3ksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas s3ksnya, yakni gradasi kelelakiannya (jika ia lelaki) atau keperempuanannya (jika ia perempuan). Implikasinya kemudian adalah terjalinnya koreasi secara otomatis antara s3ksualitas dengan serangkaian konteks sosial yang melingkupinya. S3ks pun lalu jadi sebuah fenomena yang multidimensional, dan hal inilah yang membuat s3ks menjadi potensial untuk “bercerita” dan mengungkap tentang sosok manusia. Karenanya, mempelajari fenomena s3ks adalah mempelajari manusia seutuhnya.
Uniknya lagi, nilai komersial s3ks juga selalu sangat tinggi sehinga membuat para produsen di berbagai bidang terus berlomba-lomba mengeksploitasinya sebagai sebuah komoditi. Koran dan bermacam majalah nyaris semuanya menggelar rubrik-rubrik khusus tentang problem s3ks sebagai persoalan yang seakan tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan persoalan-persoalan serius macam krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis kebudayaan, dan krisis-krisis lain yang telah melanda dunia. Dunia perfilman dan periklanan malah lebih gamblang lagi dalam memanfaatkan seks untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.[1]
Akibat langsung dari pengeksploitasian s3ks sebagai sebuah komoditi adalah pereduksian pengertian orang terhadap seksualitas menjadi sekedar gen1talitas dan organ sekunder lainnya belaka. S3ks dianggap sebagai sesuatu yang biologis-fisik semata sehingga maknanya hanya terfokus pada persetubuhan dan intercouse saja, sementara dimensi lain dari s3ks, seperti dimensi behavioral, klinis, psikososial, dan juga sosiokultural, menjadi terabaikan. 
S3ks akhirnya dipandang sebagai barang konsumsi belaka, dan bila kita telah memandang dengan cara ini, maka konsumsi itu menjadi tak terkontrol lagi karena konsumerisme memang menjadi tak terkontrol lagi karena memang konsumerisme memang dunia tanpa batas dan arah. Perkembangan dalam fenomena s3ks masyarakat modern jelas punya indikasi ini. Berbagai gejalanya, antara lain terlihat dari bisnis porn0grafi. Setidaknya ada dua persoalan mendasar dalam kasus ini. Pertama, soal kebebasan s3ks dan yang Kedua soal kek3rasan dalam kaitannya dengan perilaku s3ks manusia.[2]
Sebagai teka-teki, s3ksualitas bisa mengungkapkan banyak hal tentang manusia setiap kali kita menjawabnya dengan benar, tapi sebagai teka-teki ia tetap menjadi obyek yang menarik. S3ks merupakan sesuatu yang natural dan kodrati dalam diri kita. S3ks bekerja secara naluriah setiap kali syaraf mata kita menangkap stimulus tertentu atau indera kita yang lainnya menangkap stimulus yang sejenis. Itulah sebabnya mengapa di dunia yang sudah global sekalipun, s3ks tetap muncul sebagai daya tarik tersendiri di antara berbagai persoalan serius lain yang tengah melanda dunia. Nilai komersialnya sangat tinggi yang membuat para produsen ramai-ramai mengeksploitasinya sebagai komoditas yang tak pernah susut daya jualnya.[3]
 Filsafat dalam hal ini sangat mungkin berperan sebagai counter (tandingan) terjadinya pendangkalan makna akibat gencarnya arus komersialisasi s3ks dan mengembalikan seksualitas pada nilai dan kedudukannya yang esensial dalam diri filosofis, s3ksualitas diharapkan bisa muncul secara lebih komprehensif sampai ke berbagai relasinya yang mungkin, sebagaimana Michel Foucault menganalisa kemungkinan-kemungkinan relasi s3ksualitas dan kekuasaan.[4]
Berbicara tentang s3ks dalam pandangan filsafat pertama-tama adalah berbicara tentang bagaimana idea tentang basic instinct tersebut membentuk manusia dan masyarakatnya. Setiap masyarakat membentuk sendiri nilai-nilai dan aturan-aturan tentang perilaku seksual setiap anggotanya. Tujuan pengaturan ini bisa untuk semata-mata kepentingan sosial, kepentingan psikologis, maupun kepentingan politik. Setiap kebudayaan, karenanya, mempunyai mitos-mitos sendiri yang mengajarkan nilai-nilai perilaku s3ksual yang seharusnya, terutama melalui berbagai tabu yang mereka percayai sebagai kebenaran. Perbedaan nilai-nilai antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya atau antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, kerap sangat jauh. Tak jarang bahkan kontradiktif satu sama lain.
Perbedaan atau kontradiksi-kontradiksi semacam ini terjadi karena s3ks tidak pernah bisa terlepas dari serangkaian konteks sosial yang meliputinya. Padahal s3ks secara inheren sebenarnya universal nilai-nilainya. Tapi karena s3ks tidak pernah “bebas nilai” maka nilai-nilainya sendiri lantas kabur atau tertutupi oleh nilai-nilai yang menyertainya. Kehidupan sehari-hari, misalnya, menunjukkan pengertian s3ks kerap hanya mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan alat kelamin atau genitalia belaka padahal makna seks sebagai jenis kelamin saja sekalipun sebenarnya meliputi keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya. Itulah s3ksualitas secara keseluruhan.
Arti sempit yang melulu persetubuhan sendiri termasuk sebagai s3x acts, yang berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam: Pertama, bertujuan untuk memiliki anak (s3x as procreational). Kedua, untuk sekedar kesenangan (just for fun) atau s3ks sebagai hiburan (s3x as recreational). Dan Ketiga, bertujuan sebagai bentuk ungkapan penyatuan rasa cinta atau rasa lainnya (s3x as relational). Sedang bentuk perilaku lain yang lebih luas seperti cara berpakaian yang ser0nok, gerak-gerik, dan ekspresi wajah yang er0tis atau menggoda, membaca majalah p0rno dengan gambar-gambar nud3-nya, serta bentuk-bentuk perasaan terhadap lawan jenis, adalah s3xual behaviour atau perilaku-perilaku s3ksual secara umum.[5]
Konsep identitas s3ksual nyatanya memang tidak pernah fully realized dan settle. Tidak pernah fixed dan pasti. Inilah sebabnya mengapa ada figur selebritis yang lalu menjadi s3x symbol, menjadi lelaki atau perempuan terseksi yang meski memang dimanfaatkan atau direkayasa oleh industri perfilman dan lain sebagainya.




[1] FX. Rudy Gunawan, Refleksi atas Kelamin, Magelang: Indonesia Tera, 2000, hlm. 3-4
[2] ibid., hlm. 5
[3] ibid., hlm. 11
[4] ibid., hlm. 14
[5] ibid., hlm. 19
READ MORE

JEJAK WAHABI (SALAFI) DI BUMI NUSANTARA

Posted on with 6 comments

Pada abad ke-18 dalam sejarah Islam memiliki peristiwa yang sangat penting yaitu munculnya gelombang puritanisme Islam atau gerakan yang ingin membawa Islam ke jaman kejayaannya. Salah satu gerakan tersebut dikenal dengan “Wahabi.” Wahabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad ke-18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd. Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703 – 1787). Laki-laki ini lahir di Najd disebuah dusun kecil Uyayna. ibn Abdul Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak.
Kaum Wahabi mengklaim sebagai muslim yang berkiblat pada ajaran Islam yang pure, murni. Mereka sering juga menamakan diri sebagai “Muwahhidun” yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan keesaan Allah (tauhid). Tetapi mereka juga menyatakan bahwa mereka bukanlah sebuah mazhab atau kelompok aliran Islam baru, tetapi hanya mengikuti seruan (dakwah) untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang (paling) benar.
Munculnya gerakan Wahabi tidak bisa dipisahkan dari gerakan politik, perilaku keagamaan, pemikiran dan sosila ekonomi umat Islam. Mulanya Muhammad ibn Abdul Wahhab hidup di lingkungan Sunni pengikut mazhab Hanafi, bahkan ayahnya Syeikh Abdul Wahhab bin Sulaiman adalah seorang Sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Muhammad ibn Abdul Wahhab memang dikenal sebagai orang yang haus ilmu. Ia berguru kepada Syeikh Muhammad Hayat Sindhi, Syeikh Abdullah bin Ibrahim an-Najdy, Syeikh Efendi ad-Daghastany, Ismail al-Ajlawy, Syeikh Abdul Latief al-‘Afalaqy dan Syeikh Muhammad al-‘Afalaqy. Diantara mereka yang paling lama menjadi gurunya adalah Syeikh Muhammad Hayat Sindhi dan Syeikh Abdullah bin Ibrahim an-Najdy. Tidak puas dengan itu, ia pergi ke Syiria untuk belajar sambil berdagang.
Di Syiria, ia menemukan buku-buku Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim yang sangat ia idolakan. Akhirnya, ia semakin terpengaruh terhadap dua aliran reformis itu. Tak lama kemudian ia pergi ke Bashrah dan berguru kepada Syeikh Muhammad al-Majmu’iyah. Di kota ini ia menghabiskan mencari ilmu selama empat tahun, sebelum akhirnya ia ditolak masyarakat karena pandangannya dirasa meresahkan dan bertentangan dengan pandangan umum yang berlaku di masyarakat setempat. Kemudian Muhammad ibn Abdul Wahhab diusir dari tempat tersebut dan menuju ke sebuah tempat yang bernama Najd. Disitulah Muhammad ibn Abdul Wahhab bertemu dengan Abdul Aziz al-Sa’ud yang sedang memerintah Dir’iyyah. Dia pun mendapat angin segar karena Abdul Aziz al-Sa’ud menaungi kehidupannya bahkan menjadi pelindungnya.
Wahabisme dan keluarga Kerajaan Sa’udi telah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Sa’ud membalas jasa itu dengan menyebarkan ajaran Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have existed without the other. Seseuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lain.
Akidah-akidah Wahabi pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Ibn Taimiyah. Perbedaannya hanya berada pada cara pelaksanaan dan penafsiran terhadap beberapa permasalahan tertentu. Akidah-akidahnya dapat disimpulkan dalam dua bidang, yaitu bidang tauhid (pengesaan) dan bidang bid’ah.
Gerakan Wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian, permusuhan dan didukung oleh keuangaan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tidak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu mereka dengungkan di setiap kesempatan, mereka tidak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini, Nusantara, mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Walisongo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Secara umum tujuan gerakan Wahabi adalah mengikis habis segala bentuk takhayyul, bidah, khurafat dan bentuk-bentuk penyimpangan pemikiran dan praktik keagamaan umat Islam yang dinilainya telah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ada beberapa hal yang didoktrinkan atau diajarkan dalam praktik gerakan ini, yaitu:
1.    Semua objek peribadatan selain Allah adalah palsu dan siapa saja yang melakukannya harus menerima hukuman mati atau dibunuh.
2.    Orang yang berusaha mendapatkan kasih Tuhannya dengan cara mengunjungi kuburan-kuburan orang suci bukanlah orang yang bertauhid, tetapi termasuk orang musyrik.
3.    Bertawasul dengan Nabi dan orang sholih dalam berdoa kepada Allah adalah termasuk perbuatan syirik.
Gerakan Wahabi masuk ke Indonesia, menurut beberapa sejarawan, dimulai pada masa munculnya “Gerakan Padri” Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Beberapa tokoh Minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah Haji melihat kaum Wahabi menaklukkan Mekah dan Madinah yang pertama pada tahun 1803 – 1804. Mereka sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat Wahabiyah, dan bertekad untuk menerapkannya apabila mereka kembali ke Sumatera. Diantara mereka adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Muhammad Arif dari Sumanik dan Haji Abdurrahman dari Piobang.
Jejak gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia sebenarnya sudah ada pada abad ke-18 dengan corak ragam yang berbeda-beda dalam cara dan bentuknya sesuai dengan perbedaan kemampuan para tokoh-tokohnya serta lingkungan dimana mereka berada. Namun demikian, gerakan tersebut menuju satu sasaran yang sama yaitu berjuang dibawah satu semboyan “Kembali kepad al-Qur’an dan as-Sunnah serta kembali ke jalam Kaum Salaf.” Karena itu, sebagian orang menamakan gerakan itu dengan nama “Gerakan Salafiyah.”
 Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dimulai dengan kelahirannya di Sumatera pada tahun 1802 atas inisiatif beberapa orang Haji dari umat Islam di Pulau Sumatera yang kembali dari Mekah yang setelah mereka disana mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh Wahabi, mereka pun merasa puas akan kebenaran dakwah Wahabi (Salafi) dan mengikutinya.
Pada tahun 1805, penyebaran ajaran Wahabi (Salafi) diperkuat dengan datangnya Ahmad Surkati, ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan. Melihat perlawanan yang cukup keras dari mayoritas penganut Ahli Sunnah wal Jama’ah, terlebih setelah lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh KH. Hasyim Asy’ari, ajaran Wahabi lebih condong dilakukan melalui jalur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah semi-modern.
Meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran Wahabi (Salafi) justeru telah menyebar luas ke berbagai Negara seperti India, Sudan, Libya serta Indonesia. Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan Wahabi (Salafi) dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India. Namun, para penerusnya kelihatan lebih banyak mengkhususkan diri pada bentuk penghancuran bid’ah-bid’ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid’ah yang harus diperangi. Mungkin memang sebagian orang Islam ada yang merasakan arogansi dari kalangan pendukung dakwah Wahabiyah ini.
Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasan, baik teritori maupun ekonomi. Di Indonesia tidak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideology juga tumbuh subur, termasuk ideology Wahabi. Apalagi Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir dengan rapi. Dana mereka cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Suadi).
Selain itu, misi dari gerakan Wahabi adalah memecah Umat Islam. Dalam sepak terjangnya, Wahabi berkilah dengan berbagai cara. Hadits dimanipulasi, kitab-kitab ahlus sunnah banyak yang dirubah, semua itu sebenarnya tidak lain lagi hanya untuk menyokong gerakan mereka. Namun, kami selalu yakin bahwa akan selalu ada generasi Ahli Sunnah wal Jama’ah yang mampu mengoyak dan membongkar kedok mereka, menerobos tembok-tembok muslihat mereka dengan hujjah yang tidak terbantahkan.
Orang yang ber-taqlid kepada mazhab dihukumi kafir, orang ziarah kubur dibilang kafir, tawasul syirik, istighatsah juga syirik, ini kafir dan itu kafir. Intinya, yang tidak sepaham dengan Wahabi (Salafi) dibilang “kafir dan halal darahnya.” Bahkan dalam rangka “menaik-daunkan” gerakannya, mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa ibu Hawa, ibu seluruh manusia, adalah musyrik. Mereka juga mengatakan bahwa sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas, adalah sesat. Semua doktrin atau ajaran Wahabi (Salafi) akhirnya menimbulkan banyak pertumpahan darah, karena gerakan ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang bersifat musyrik dan bid’ah harus diberantas, dimusnahkan atau dibunuh.


READ MORE

KH. SHOBIBURRAHMAN ATAU SIMBAH SHOBIB: WALI NYENTRIK DARI JEPARA

Posted on with 2 comments
Berikut cerita tentang Simbah Shobib atau KH. Shobiburrahman bin Anwar dari status Abah Yai Ahmad Mustofa Bisri atau yang sering di sapa Gus Mus...

Aku sedang duduk sendiri di ruang tamu, setelah tamu-tamu pamit pulang, ketika datang seorang tua berpakaian petani, seperti baru saja mentas dari sawah. Begitu sampai pintu rumah, dia buka tudung kepalanya dan dengan berjongkok dia mendatangiku. Aku buru-buru mendapatkannya dan 'mendudukkannya' di sebelahku.
Dengan sangat sopan, dia memperkenalkan dirinya. (MasyaAllah, aku kaget setengah mati. Inikah tokoh yang selama ini diceritakan orang dengan berbagai sebutan, seperti Kiai Khos, Kiai Nyentrik, 'Kiai jalanan', bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai Wali? Kiai yang sering menolong orang dengan menyamar sebagai orang lain?).
Selain ingin bersilaturahmi, tamu istimewaku itu minta izin untuk memberi sekedar 'uang jajan' kepada anak-anak TK Masyithoh yang letaknya di sebelah rumah. Dia minta tolong ibu guru TK menjelaskan kehadirannya, sebelum kemudian membagikan uang kepada anak-anak sambil mengatakan, "Mbah dimintakan ampun kepada Allah ya!"
Kemudian, setelah perkenalan aneh tersebut, tokoh yang suka menyebut dirinya Sarkub alias Sarjana Kuburan ini sering ke rumah dengan penampilan khas. Tidak lagi seperti petani; tapi campuran antara citra kiai, pengusaha, dan rakyat jelata: mengenakan jas, peci hitam yang lancip, selalu naik mobil yang cukup mewah --paling sering naik jeep Mercedes Benz-- dan memakai sandal japit atau bahkan kadang nyeker, tanpa alas kaki.
Kebiasaan istimewa tokoh ini saat rawuh ke rumah: duduk hanya sebentar, lalu minta izin ke dapur; lalu membagi-bagi uang kepada siapa saja yang ada di dapur. Lalu minta izin untuk memberi uang kepada ibuku (almarhumah nyai Ma'rufah Bisri), kepada mbakyuku (Nyai Muhsinah Cholil), dan ibunya anak-anak (almarhumah bu Siti Fatmah).
Kemudian bergegas kesana-kemari untuk memberikan uang tidak hanya kepada mereka yang dituju, tapi juga kepada siapa saja yang berpapasan; apakah itu anak-anak, santri, atau orang yang kebetulan lewat. Maka hampir semua penduduk seputar gubug kita hafal kebiasaan istimewa ini.
Aku perhatikan jasnya yang tampak kebesaran dan memiliki banyak saku itu, ternyata bukan sembarang jas. Rupanya saku-saku jas itu penuh dengan uang dan masing-masing, berisi uang dengan nominal sendiri-sendiri: saku ini berisi ratusan ribu; saku itu, lima puluhan ribu; yang ini, dua puluhan ribu; yang itu, sepuluhan... Jadi setiap orang 'punya saku'nya sendiri di jas tokoh kita ini.
Pasti kebiasaan membagi-bagi uang itu tidak hanya di tempat kami saja. Sebelumnya aku sudah mendengar kebiasaan 'kiai-pengusaha' dermawan ini. Dan ini hanyalah salah satu dari keistimewaan tokoh kiai yang mengaku pernah menjadi khadam atau pelayannya Mbah Kiai Romli Tamim Rejoso.
Kiai yang --seperti halnya Al-'arif biLlah Syeikh Bahlul dari Baghdad-- suka ziarah ke kuburan ini, 8 tahun yang lalu wafat setelah sehari sebelumnya ziarah ke makam Sunan Muria. Hari ini akan diperingati haul tokoh kita ini, KH. Shobiburrahman bin Anwar yang masyhur dikenal dengan panggilan Mbah Shobib, di kediamannya Menganti Jepara.



READ MORE

PHONE S3X DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM

Posted on with No comments
Phone s3x atau telepon s3ks merupakan jenis virtual s3ks yang merujuk ke percakapan seksual ekspilisit antara dua orang atau lebih melalui telepon, kemudian yang melakukan percakapan tersebut berfantasi seksual. Perbincangan ini antara dua orang atau lebih melalui telepon yang bertujuan untuk menstimulasi gairah s3ksual hingga mencapai titik orgasme.  Phone s3x juga bisa dijadikan ajang fantasi s3ks saat melakukan masturbasi. 
Telepon s3ks secara psikologis ternyata bisa membuat orang jadi romantis, atau sebaliknya liar. Percakapan bisa mengasyikkan hingga menghabiskan waktu berjam-jam.  Tapi dapat pula berlangsung singkat tanpa banyak basa-basi. Disitulah akan terlihat sejauhmana teknik berkomunikasi dikuasai. Langsung mengeluarkan kata-kata vulg4r menandakan tidak bisa mengontrol diri.
Seiring perubahan zaman, phone s3x tidak hanya dilakukan oleh pasangan yang saling mengenal. Jasa layanan phone s3x dengan mudah didapati melalui media cetak maupun online. Ini dapat dikategorikan sebagai pornografi yang menggunakan audio (pendengaran) sebagai medianya.
Perilaku phone s3x sama seperti rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang, juga bisa berakibat kecanduan bagi penggunanya. Hal ini disebabkan ketika melakukan kegiatan s3ks, ada sejenis senyawa kimia yang dilepaskan di dalam tubuh dan memberikan rasa nyaman. Rasa nyaman inilah kemudian yang membuat seseorang ingin merasakannya tidak cukup sekali dan bahkan mulai terobsesi untuk mendapatkan rasa nyaman ini terus menerus.
Dorongan dan obsesi inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk terus melakukan aktivitas s3ksual secara berlebih dan beresiko tinggi. S3ks kemudian menjadi hal terpenting dibanding aspek kehidupan lainnya. Kecanduan s3ks mungkin tidak akan merusak tubuh seperti halnya alk0hol dan nark0ba, namun perlahan tapi pasti perilaku seksual akan merusak kehidupan pribadi, baik itu pendidikan, karir, keluarga maupun kehidupan sosial.
Allah Swt memberi manusia pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia bersyukur.  Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Justru digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Untuk melihat yang tidak halal baginya, mendengar yang tidak patut didengar. Terlebih di era globalisasi ini dengan segenap kecanggihan teknologi dan informasi, baik dari media cetak maupun elektronik, seperti internet, televisi, handphone, majalah, koran, dan lain sebagainya, yang notabene-nya menyajikan gambar wanita-wanita yang terbuka auratnya. Ditambah lagi dengan maraknya layanan phone s3x. Dengan mudahnya seseorang menikmati layanan tersebut.
Phone s3x dalam maqashid asy-syari'ah kategori memelihara akal dapat dikatakan merusak akal. Akal sehat manusia tidak akan pernah menerima perlakuan yang merendahkan martabat kemanusiaannya demi kesenangan sesaat semata, demi materi duniawi semata.  Pencapaian tujuan kesenangan yang hanya bersifat duniawi, tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang menyenangkan di akhirat kelak. Allah adalah Maha Pemberi Kehormatan kepada yang dikehendakinya. Untuk itulah diturunkan hukum Islam dengan salah satu tujuanya menjaga harga diri.
Phone s3x bukan merupakan perbuatan yang dapat memberikan kehormatan ataupun nikmat yang diridhai Allah. Phone s3x merupakan perbuatan atau nikmat yang bersifat sementara bagi sebagian manusia dan merendahkan kehormatan dirinya serta melepaskan dirinya pula dari akidah, syariat, dan akhlak (Islami). Phone s3x merupakan perbuatan yang menimbulkan kenikmatan yang memperdaya manusia.
Pada satu sisi, layanan phone s3x bisa digunakan sebagai alternatif untuk menyalurkan hasrat seksual sementara. Itu dipilih karena dianggap lebih baik daripada z1na atau menggunakan jasa pekerja s3ks secara langsung. Sedangkan di sisi lain, banyak sekali generasi penerus bangsa yang dengan mudah mengakses dan menggunakan jasa layanan phone s3x
Bagi pemuda yang telah memiliki kemampuan dan hasrat s3ksual, Islam menganjurkan adanya pernikahan. Ini agar terjaga kehormatan dirinya dan tidak terjerumus pada zina maupun perbuatan yang mendekatinya. Namun bagi yang belum mampu, Rasulullah Saw menganjurkan untuk berpuasa. Sebagaimana hadits Nabi Saw:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابَ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّومِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءُ (رواه البخاري)
Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan (biologis maupun materi), maka menikahlah. Karena hal itu lebih dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa karena hal itu menjadi benteng baginya.” (HR. al-Bukhari).[1]
Telepon s3ks merupakan z1na telinga, lidah dan hati. Ini berarti bahwa layanan telepon s3ks statusnya menyediakan wadah untuk berz1na dengan telinga, lidah dan hati. Itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
العَيْناَنِ زِنَاهُماَ النَّظَرُ وَ الأُذُنَانِ زِنَاهُماَ الإِسْتِمَاعُ وَ اللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَ الْيَدُ زِنَاهاَ الْبَطْشُ وَ الرِّجْلُ زِنَاهاَ الْخُطَا وَ الْقَلْبُ يَهْوَى وَ يَتَمَنَّى وَ يُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُكَذِّبُهُ (رواه مسلم)
Mata z1nanya melihat, telinga zinanya mendengar, lidah z1nanya berbicara, tangan zinanya memegang, kaki z1nanya melangkah, dan hati z1nanya gairah dan bayangan pikiran kotor. Sementara kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakan terjadinya z1na sesungguhnya.” (HR. Muslim).[2]
Hukum Islam hadir bertujuan untuk membawa kemaslahatan di muka bumi. Mashlahah yang dapat dipakai setidaknya harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya:
Pertama: yaitu kemaslahatan harus sangat esensial dan primer. Maksudnya, kemaslahatannya yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia di dunia dan di akhirat. Layanan phone s3x bukan merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Allah Swt telah mengatur pemenuhan tersebut melalui pernikahan.
Kedua, kemaslahatan sangat jelas dan tegas. Artinya, bentuk maslahat yang dimiliki suatu masalah telah jelas lebih besar dari pada mudharat-nya. Layanan telepon s3ks membawa kerusakan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang, meliputi kehidupan pribadi, keluarga, keuangan dan karir.
Ketiga, kemaslahatannya bersifat universal, yakni kemaslahatan tersebut bukan untuk kemaslahatan pribadi namun kemaslahatan untuk banyak orang. Memang bagi beberapa orang yang tidak bisa menyalurkan hasrat s3ksual kepada pasangan karena faktor jarak, layanan ini bisa menjadi alternatif daripada z1na. Namun, bagi banyak orang secara umum layanan ini tidak mempunyai kemaslahatan. Malahan, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar. 
 Keempat, kemaslahatan berdasarkan dalil universal, yaitu dalil yang tegas diakui syariat.  Al-Qur'an secara tegas melarang z1na dan hal-hal yang mengantarkan padanya. Layanan phone s3x merupakan prostitusi terselubung dan termasuk perbuatan yang mendekati z1na. 
Berikut merupakan kaidah dalam mengambil mashlahah:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Menolak kemafsadatan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”[3]
Menurut kaidah di atas bahwa walaupun suatu hal mengandung kemaslahatan, namun jika terdapat mafsadat (kerusakan) didalamnya, maka sebaiknya ditinggalkan. Ini dikarenakan menghilangkan sebuah mafsadat lebih susah daripada menarik mashlahah. Mudharat yang terkandung dalam layanan phone s3x lebih besar ketimbang mashlahah yang bisa didapat, sehingga layanan ini sudah seharusnya dilarang oleh pihak berwajib.
Allah Swt telah mengatur penyaluran hasrat s3ksual dengan sedemikian baik. Ada berbagai aturan yang harus dipenuhi jika hendak melakukan hubungan s3ksual dengan suami atau istrinya, bukan dengan operator penyedia layanan phone s3x. Tidak ada alasan untuk melakukan phone s3x apalagi menggunakan layanan phone s3x. Terdapat bahaya yang timbul akibat seorang suami terlalu lama meninggalkan istrinya. Amirul Mu'minin Umar bin Khattab menetapkan peraturan, bahwa untuk para mujahidin diijinkan pergi berperang paling lama hanya selama enam bulan. Berangkat satu bulan, di medan perang empat bulan, dan kembali pulang selama satu bulan. Dari peraturan yang dibuat tersebut mencerminkan betapa pentingnya keharmonisan dalam keluarga, karena dari lingkup terkecil yakni keluargalah yang menentukan kekuatan sebuah negara.



[1] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Riyad: Darussalam, 2008), 438.
[2] Abi Husayn Muslim, Shahih Muslim, (Riyad: Darussalam, 2008), 1141.
[3] Moh. Adib Bisri, Risalah Qawaid Fiqh, (Kudus : Menara Kudus, 1977), 24

READ MORE

HUKUM NIKAH SIRRI ONLINE

Posted on with No comments
Proses akad pernikahan sirri online ini bisa dikatakan dengan akad nikah yang dilaksanakan dalam majelis yang berbeda (tidak satu tempat), dalam artian tidak bertatap muka secara fisik. Sehingga menurut pendapat dari kalangan Syafi’iah, Malikiyah dan Hanabilah, pernikahan sirri secara online tidak diperbolehkan. Sedangkan menurut kalangan Hanafiah memperbolehkan akad nikah yang tidak dilakukan dalam “satu majelis” secara fisik.[1]
Pengertian “satu majelis” oleh jumhur ulama dipahamkan dengan kehadiran mereka dalam satu tempat secara fisik, oleh karena itu apabila suatu akad pernikahan tidak dilaksanankan dalam satu tempat maka pernikahan tersebut tidak sah. Demikian juga apabila calon mempelai pria tidak dapat hadir dalam satu majelis pada waktu akad pernikahan dilangsungkan namun pria tersebut mengirimkan surat sebagai qabul-nya maka pernikahannya tetap tidak sah.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Sedangkan menurut pendapat yang shahih dari ulama Syafi’iyyah, ijab-qabul tidak boleh dilakukan melalui surat-menyurat, baik ijab-qabul dalam transaksi mu’amalat terlebih dalam melakukan suatu akad pernikahan. Mereka berpendapat bahwa ijab-qabul adalah suatu sarana untuk menunjukkan kedua belah pihak saling ridha akan adanya transaksi, dan ridha tidak bisa diyakinkan hanya dengan melalui sepucuk surat.
Solusi yang ditawarkan oleh ulama Syafi’iyyah adalah dengan mewakilkan akad kepada seseorang dan kemudian wakil tersebut hadir dalam akad pernikahan, jika demikian maka para ulama sepakat bahwa transaksi yang diwakilkan hukumnya sah. Oleh karena itu, menurut pandangan Syafi’iyyah ijab-qabul melalui surat tanpa mewakilkan tidak sah hukumnya.
Sedangakan menurut ulama dari kalangan Hanafiah, mereka berpendapat bahwa pengertian dari akad satu majelis bukan hanya dilihat dari kehadiran pihak secara fisik saja akan tetapi ijab dan qabul harus dilakukan dalam satu tempat dan secara kontinu serta saling berkesinambungan. Dalam hal ini ulama Hanafiah membolehkan akad nikah melalui surat asalkan surat tersebut dibacakan di depan para saksi dan langsung dijawab hal tersebut di katakan sebagai ijab dan qabul.[2]
Adapun menurut pendapat para ulama kontemporer mengenai hukum nikah sirri online, menurut pandangan KH. Arwani Faisal, wakil ketua lembaga Bahtsul Masail, mengatakan bahwa jika nikah sirri online itu akadnya abal-abal, jelas “haram” hukumnya. Dan juga apabila melakukan hubungan senggama maka termasuk perbuatan zina karena syarat dan rukun nikahnya itu hanya abal-abal.[3]
Pernikahan sirri online yang marak terjadi saat ini termasuk salah satu praktek perzinahan. Karena dalam akadnya si perempuan menggunakan wali yang tidak jelas, saksi yang tidak jelas, penghulunya hanya seorang yang berkedok sebagai orang yang mengaku alim pintar agama serta dalam melaksanakan ijab-qabul tidak berada dalam keadaan satu majelis secara langsung dengan bertatap muka. Akad satu majelis itu belum dikatakan sah apabila dilakukan hanya melalui video internet karena mengandung ketidak-pastian serta tidak dapat bertatapan langsung secara fisik dalam satu tempat.
Memahami dari penjelasan para ulama salaf serta ulama kontemporer yang terkait dengan kasus hukum yang terkandung dalam pelaksanaan akad nikah sirri online, tergambar dengan jelas bahwa nikah sirri online hukumnya tidak  sah, karena melihat pada praktik pelaksanaan nikah sirri online dan penjelasan mengenai akad pernikahan dari pandangan para ulama.
Praktik nikah sirri online ini terjadi karena adanya penawaran jasa nikah dari para oknum yang ingin meraup keuntungan kepada masyarakat awam dengan memfasilitasi nikah secara sirri dengan menggunakan media online. Tata cara pelaksanaanya juga sangat mudah karena calon mempelai pria dan wanita tidak harus datang untuk menemui si penghulu karena cukup menggunakan media online skype sudah dapat melangsungkan akad pernikahan, wali dan saksinya pun sudah disediakan oleh pihak penawar jasa. Dan akadnya pun dapat dilangsungkan meskipun calon mempelai dengan penghulunya tidak berada dalam satu tempat.
Dari sini jelas bahwa praktik nikah sirri online ini tidak sah untuk dilaksanankan karena semua unsur yang ada dalam pernikahan ini tidak jelas mulai dari yang menikahkan serta wali dan saksinya pun juga tidak jelas dapat diartikan bahwa wali dan saksinya bukan dari pihak perempuan.
Praktik nikah sirri online ini merupakan suatu alasan bagi para pelaku untuk menghalalkan perzinahan dengan berkedok “telah melaksanankan akad nikah”, supaya dapat dengan bebas melakukan hubungan biologis dengan lawan jenisnya. Akad dalam nikah sirri online ini dapat dikatakan tidak sesuai atau tidak ada keterkaitan dalam pemikiran para ulama salaf mengenai akad yang harus dilaksanakan dalam satu majelis.
Begitu juga dikuatkan oleh penjelasan dari beberapa pendapat yang dikeluarkan oleh para ulama kontemporer yang menganggap bahwa akad yang dilakukan dalam nikah sirri online hukumnya haram karena pelakunya tidak berada dalam satu tempat serta rukun dalam pernikahannya hanyalah rekayasa atau abal-abal. 
Dapat diartikan bahwa akad dalam nikah sirri online ini hanya merupakan rekayasa atau akad yang tidak jelas, dalam artian hanya sebuah abal-abal saja karena semua rukun tidak terpenuhi juga dilakukan tidak dalam satu majelis oleh para penyalur jasa dan calon mempelai, dengan mengatas-namakan sebagai sebuah pernikahan yang dianggap sah menurut agama supaya dapat melakukan hubungan biologis dengan bebas kepada lawan jenisnya.




[1] Wahbah az-Zuhaili, Fiqh al-Islam wa ‘Adilatuhu, jilid 9 (Jakarta: Gema Insani, 2011), 57.
[2] Ibid.
[3] http://www.nu.or.id/18/03/2015/LBMNU/nikah-sirri-online-jadi-ajang-perzinahan
READ MORE

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter