Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

TEKA-TEKI SEKS

Posted on with No comments

Seks sebagai urusan kelamin tak pernah kehabisan atau kehilangan daya sensasionalnya bagi siapapun dan di zaman apapun. Selalu saja ada perkembangan-perkembangan baru dalam fenomena seks sebuah masyarakat, meski sexual act yang mendasar sebenarnya hanya begitu-begitu saja. Tapi memang manusia seluruhnya adalah seksual. Seluruh tingkah lakunya selalu diresapi oleh identitas seksnya, yakni gradasi kelelakiannya (jika ia lelaki) atau keperempuanannya (jika ia perempuan). Implikasinya kemudian adalah terjalinnya koreasi secara otomatis antara seksualitas dengan serangkaian konteks sosial yang melingkupinya. Seks pun lalu jadi sebuah fenomena yang multidimensional, dan hal inilah yang membuat seks menjadi potensial untuk “bercerita” dan mengungkap tentang sosok manusia. Karenanya, mempelajari fenomena seks adalah mempelajari manusia seutuhnya.
Uniknya lagi, nilai komersial seks juga selalu sangat tinggi sehinga membuat para produsen di berbagai bidang terus berlomba-lomba mengeksploitasinya sebagai sebuah komoditi. Koran dan bermacam majalah nyaris semuanya menggelar rubrik-rubrik khusus tentang problem seks sebagai persoalan yang seakan tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan persoalan-persoalan serius macam krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis kebudayaan, dan krisis-krisis lain yang telah melanda dunia. Dunia perfilman dan periklanan malah lebih gamblang lagi dalam memanfaatkan seks untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya.[1]
Akibat langsung dari pengeksploitasian seks sebagai sebuah komoditi adalah pereduksian pengertian orang terhadap seksualitas menjadi sekedar genitalitas dan organ sekunder lainnya belaka. Seks dianggap sebagai sesuatu yang biologis-fisik semata sehingga maknanya hanya terfokus pada persetubuhan dan intercouse saja, sementara dimensi lain dari seks, seperti dimensi behavioral, klinis, psikososial, dan juga sosiokultural, menjadi terabaikan. 
Seks akhirnya dipandang sebagai barang konsumsi belaka, dan bila kita telah memandang dengan cara ini, maka konsumsi itu menjadi tak terkontrol lagi karena konsumerisme memang menjadi tak terkontrol lagi karena memang konsumerisme memang dunia tanpa batas dan arah. Perkembangan dalam fenomena seks masyarakat modern jelas punya indikasi ini. Berbagai gejalanya, antara lain terlihat dari bisnis pornografi. Setidaknya ada dua persoalan mendasar dalam kasus ini. Pertama, soal kebebasan seks dan yang Kedua soal kekerasan dalam kaitannya dengan perilaku seks manusia.[2]
Sebagai teka-teki, seksualitas bisa mengungkapkan banyak hal tentang manusia setiap kali kita menjawabnya dengan benar, tapi sebagai teka-teki ia tetap menjadi obyek yang menarik. Seks merupakan sesuatu yang natural dan kodrati dalam diri kita. Seks bekerja secara naluriah setiap kali syaraf mata kita menangkap stimulus tertentu atau inderakita yang lainnya menangkap stimulus yang sejenis. Itulah sebabnya mengapa di dunia yang sudah global sekalipun, seks tetap muncul sebagai daya tarik tersendiri di antara berbagai persoalan serius lain yang tengah melanda dunia. Nilai komersialnya sangat tinggi yang membuat para produsen ramai-ramai mengeksploitasinya sebagai komoditas yang tak pernah susut daya jualnya.[3]
 Filsafat dalam hal ini sangat mungkin berperan sebagai counter (tandingan) terjadinya pendangkalan makna akibat gencarnya arus komersialisasi seks dan mengembalikan seksualitas pada nilai dan kedudukannya yang esensial dalam diri filosofis, seksualitas diharapkan bisa muncul secara lebih komprehensif sampai ke berbagai relasinya yang mungkin, sebagaimana Michel Foucault menganalisa kemungkinan-kemungkinan relasi seksualitas dan kekuasaan.[4]
Berbicara tentang seks dalam pandangan filsafat pertama-tama adalah berbicara tentang bagaimana idea tentang basic instinct tersebut membentuk manusia dan masyarakatnya. Setiap masyarakat membentuk sendiri nilai-nilai dan aturan-aturan tentang perilaku seksual setiap anggotanya. Tujuan pengaturan ini bisa untuk semata-mata kepentingan sosial, kepentingan psikologis, maupun kepentingan politik. Setiap kebudayaan, karenanya, mempunyai mitos-mitos sendiri yang mengajarkan nilai-nilai perilaku seksual yang seharusnya, terutama melalui berbagai tabu yang mereka percayai sebagai kebenaran. Perbedaan nilai-nilai antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya atau antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya, kerap sangat jauh. Tak jarang bahkan kontradiktif satu sama lain.
Perbedaan atau kontradiksi-kontradiksi semacam ini terjadi karena seks tidak pernah bisa terlepas dari serangkaian konteks sosial yang meliputinya. Padahal seks secara inheren sebenarnya universal nilai-nilainya. Tapi karena seks tidak pernah “bebas nilai” maka nilai-nilainya sendiri lantas kabur atau tertutupi oleh nilai-nilai yang menyertainya. Kehidupan sehari-hari, misalnya, menunjukkan pengertian seks kerap hanya mengacu pada aktivitas biologis yang berhubungan dengan alat kelamin atau genitalia belaka padahal makna seks sebagai jenis kelamin saja sekalipun sebenarnya meliputi keseluruhan kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian dan sikap seseorang yang berkaitan dengan perilaku serta orientasi seksualnya. Itulah seksualitas secara keseluruhan.
Arti sempit yang melulu persetubuhan sendiri termasuk sebagai sex acts, yang berdasarkan tujuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam: Pertama, bertujuan untuk memiliki anak (sex as procreational). Kedua, untuk sekedar kesenangan (just for fun) atau seks sebagai hiburan (sex as recreational). Dan Ketiga, bertujuan sebagai bentuk ungkapan penyatuan rasa cinta atau rasa lainnya (sex as relational). Sedang bentuk perilaku lain yang lebih luas seperti cara berpakaian yang seronok, gerak-gerik, dan ekspresi wajah yang erotis atau menggoda, membaca majalah porno dengan gambar-gambar nude-nya, serta bentuk-bentuk perasaan terhadap lawan jenis, adalah sexual behaviour atau perilaku-perilaku seksual secara umum.[5]
Konsep identitas seksual nyatanya memang tidak pernah fully realized dan settle. Tidak pernah fixed dan pasti. Inilah sebabnya mengapa ada figur selebritis yang lalu menjadi sex symbol, menjadi lelaki atau perempuan terseksi yang meski memang dimanfaatkan atau direkayasa oleh industri perfilman dan lain sebagainya.



[1] FX. Rudy Gunawan, Refleksi atas Kelamin, Magelang: Indonesia Tera, 2000, hlm. 3-4
[2] ibid., hlm. 5
[3] ibid., hlm. 11
[4] ibid., hlm. 14
[5] ibid., hlm. 19
READ MORE

JEJAK WAHABI (SALAFI) DI BUMI NUSANTARA

Posted on with 2 comments

Pada abad ke-18 dalam sejarah Islam memiliki peristiwa yang sangat penting yaitu munculnya gelombang puritanisme Islam atau gerakan yang ingin membawa Islam ke jaman kejayaannya. Salah satu gerakan tersebut dikenal dengan “Wahabi.” Wahabisme atau ajaran Wahabi muncul pada pertengahan abad ke-18 di Dir’iyyah sebuah dusun terpencil di Jazirah Arab, di daerah Najd. Kata Wahabi sendiri diambil dari nama pendirinya, yaitu Muhammad ibn Abdul Wahhab (1703 – 1787). Laki-laki ini lahir di Najd disebuah dusun kecil Uyayna. ibn Abdul Wahhab adalah seorang mubaligh yang fanatik dan telah menikahi lebih dari 20 wanita (tidak lebih dari 4 pada waktu bersamaan) dan mempunyai 18 orang anak.
Kaum Wahabi mengklaim sebagai muslim yang berkiblat pada ajaran Islam yang pure, murni. Mereka sering juga menamakan diri sebagai “Muwahhidun” yang berarti pendukung ajaran yang memurnikan keesaan Allah (tauhid). Tetapi mereka juga menyatakan bahwa mereka bukanlah sebuah mazhab atau kelompok aliran Islam baru, tetapi hanya mengikuti seruan (dakwah) untuk mengimplementasikan ajaran Islam yang (paling) benar.
Munculnya gerakan Wahabi tidak bisa dipisahkan dari gerakan politik, perilaku keagamaan, pemikiran dan sosila ekonomi umat Islam. Mulanya Muhammad ibn Abdul Wahhab hidup di lingkungan Sunni pengikut mazhab Hanafi, bahkan ayahnya Syeikh Abdul Wahhab bin Sulaiman adalah seorang Sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Muhammad ibn Abdul Wahhab memang dikenal sebagai orang yang haus ilmu. Ia berguru kepada Syeikh Muhammad Hayat Sindhi, Syeikh Abdullah bin Ibrahim an-Najdy, Syeikh Efendi ad-Daghastany, Ismail al-Ajlawy, Syeikh Abdul Latief al-‘Afalaqy dan Syeikh Muhammad al-‘Afalaqy. Diantara mereka yang paling lama menjadi gurunya adalah Syeikh Muhammad Hayat Sindhi dan Syeikh Abdullah bin Ibrahim an-Najdy. Tidak puas dengan itu, ia pergi ke Syiria untuk belajar sambil berdagang.
Di Syiria, ia menemukan buku-buku Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim yang sangat ia idolakan. Akhirnya, ia semakin terpengaruh terhadap dua aliran reformis itu. Tak lama kemudian ia pergi ke Bashrah dan berguru kepada Syeikh Muhammad al-Majmu’iyah. Di kota ini ia menghabiskan mencari ilmu selama empat tahun, sebelum akhirnya ia ditolak masyarakat karena pandangannya dirasa meresahkan dan bertentangan dengan pandangan umum yang berlaku di masyarakat setempat. Kemudian Muhammad ibn Abdul Wahhab diusir dari tempat tersebut dan menuju ke sebuah tempat yang bernama Najd. Disitulah Muhammad ibn Abdul Wahhab bertemu dengan Abdul Aziz al-Sa’ud yang sedang memerintah Dir’iyyah. Dia pun mendapat angin segar karena Abdul Aziz al-Sa’ud menaungi kehidupannya bahkan menjadi pelindungnya.
Wahabisme dan keluarga Kerajaan Sa’udi telah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak kelahiran keduanya. Wahabisme-lah yang telah menciptakan kerajaan Saudi, dan sebaliknya keluarga Sa’ud membalas jasa itu dengan menyebarkan ajaran Wahabi ke seluruh penjuru dunia. One could not have existed without the other. Seseuatu tidak dapat terwujud tanpa bantuan sesuatu yang lain.
Akidah-akidah Wahabi pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Ibn Taimiyah. Perbedaannya hanya berada pada cara pelaksanaan dan penafsiran terhadap beberapa permasalahan tertentu. Akidah-akidahnya dapat disimpulkan dalam dua bidang, yaitu bidang tauhid (pengesaan) dan bidang bid’ah.
Gerakan Wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian, permusuhan dan didukung oleh keuangaan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tidak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu mereka dengungkan di setiap kesempatan, mereka tidak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini, Nusantara, mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Walisongo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.
Secara umum tujuan gerakan Wahabi adalah mengikis habis segala bentuk takhayyul, bidah, khurafat dan bentuk-bentuk penyimpangan pemikiran dan praktik keagamaan umat Islam yang dinilainya telah keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ada beberapa hal yang didoktrinkan atau diajarkan dalam praktik gerakan ini, yaitu:
1.    Semua objek peribadatan selain Allah adalah palsu dan siapa saja yang melakukannya harus menerima hukuman mati atau dibunuh.
2.    Orang yang berusaha mendapatkan kasih Tuhannya dengan cara mengunjungi kuburan-kuburan orang suci bukanlah orang yang bertauhid, tetapi termasuk orang musyrik.
3.    Bertawasul dengan Nabi dan orang sholih dalam berdoa kepada Allah adalah termasuk perbuatan syirik.
Gerakan Wahabi masuk ke Indonesia, menurut beberapa sejarawan, dimulai pada masa munculnya “Gerakan Padri” Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Beberapa tokoh Minangkabau yang tengah melaksanakan ibadah Haji melihat kaum Wahabi menaklukkan Mekah dan Madinah yang pertama pada tahun 1803 – 1804. Mereka sangat terkesan dengan ajaran tauhid dan syariat Wahabiyah, dan bertekad untuk menerapkannya apabila mereka kembali ke Sumatera. Diantara mereka adalah Haji Miskin dari Lu(h)ak Agam, Haji Muhammad Arif dari Sumanik dan Haji Abdurrahman dari Piobang.
Jejak gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia sebenarnya sudah ada pada abad ke-18 dengan corak ragam yang berbeda-beda dalam cara dan bentuknya sesuai dengan perbedaan kemampuan para tokoh-tokohnya serta lingkungan dimana mereka berada. Namun demikian, gerakan tersebut menuju satu sasaran yang sama yaitu berjuang dibawah satu semboyan “Kembali kepad al-Qur’an dan as-Sunnah serta kembali ke jalam Kaum Salaf.” Karena itu, sebagian orang menamakan gerakan itu dengan nama “Gerakan Salafiyah.”
 Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dimulai dengan kelahirannya di Sumatera pada tahun 1802 atas inisiatif beberapa orang Haji dari umat Islam di Pulau Sumatera yang kembali dari Mekah yang setelah mereka disana mengadakan hubungan dengan tokoh-tokoh Wahabi, mereka pun merasa puas akan kebenaran dakwah Wahabi (Salafi) dan mengikutinya.
Pada tahun 1805, penyebaran ajaran Wahabi (Salafi) diperkuat dengan datangnya Ahmad Surkati, ulama Wahabi keturunan Arab-Sudan. Melihat perlawanan yang cukup keras dari mayoritas penganut Ahli Sunnah wal Jama’ah, terlebih setelah lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 yang diprakarsai oleh KH. Hasyim Asy’ari, ajaran Wahabi lebih condong dilakukan melalui jalur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah semi-modern.
Meski sempat melemah di Arab Saudi, ajaran Wahabi (Salafi) justeru telah menyebar luas ke berbagai Negara seperti India, Sudan, Libya serta Indonesia. Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan Wahabi (Salafi) dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India. Namun, para penerusnya kelihatan lebih banyak mengkhususkan diri pada bentuk penghancuran bid’ah-bid’ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid’ah yang harus diperangi. Mungkin memang sebagian orang Islam ada yang merasakan arogansi dari kalangan pendukung dakwah Wahabiyah ini.
Gerakan Wahabi (Salafi) di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasan, baik teritori maupun ekonomi. Di Indonesia tidak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideology juga tumbuh subur, termasuk ideology Wahabi. Apalagi Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir dengan rapi. Dana mereka cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Suadi).
Selain itu, misi dari gerakan Wahabi adalah memecah Umat Islam. Dalam sepak terjangnya, Wahabi berkilah dengan berbagai cara. Hadits dimanipulasi, kitab-kitab ahlus sunnah banyak yang dirubah, semua itu sebenarnya tidak lain lagi hanya untuk menyokong gerakan mereka. Namun, kami selalu yakin bahwa akan selalu ada generasi Ahli Sunnah wal Jama’ah yang mampu mengoyak dan membongkar kedok mereka, menerobos tembok-tembok muslihat mereka dengan hujjah yang tidak terbantahkan.
Orang yang ber-taqlid kepada mazhab dihukumi kafir, orang ziarah kubur dibilang kafir, tawasul syirik, istighatsah juga syirik, ini kafir dan itu kafir. Intinya, yang tidak sepaham dengan Wahabi (Salafi) dibilang “kafir dan halal darahnya.” Bahkan dalam rangka “menaik-daunkan” gerakannya, mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa ibu Hawa, ibu seluruh manusia, adalah musyrik. Mereka juga mengatakan bahwa sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas, adalah sesat. Semua doktrin atau ajaran Wahabi (Salafi) akhirnya menimbulkan banyak pertumpahan darah, karena gerakan ini berpendapat bahwa segala sesuatu yang bersifat musyrik dan bid’ah harus diberantas, dimusnahkan atau dibunuh.


READ MORE

KH. SHOBIBURRAHMAN ATAU SIMBAH SHOBIB: WALI NYENTRIK DARI JEPARA

Posted on with 1 comment
Berikut cerita tentang Simbah Shobib atau KH. Shobiburrahman bin Anwar dari status Abah Yai Ahmad Mustofa Bisri atau yang sering di sapa Gus Mus...

Aku sedang duduk sendiri di ruang tamu, setelah tamu-tamu pamit pulang, ketika datang seorang tua berpakaian petani, seperti baru saja mentas dari sawah. Begitu sampai pintu rumah, dia buka tudung kepalanya dan dengan berjongkok dia mendatangiku. Aku buru-buru mendapatkannya dan 'mendudukkannya' di sebelahku.
Dengan sangat sopan, dia memperkenalkan dirinya. (MasyaAllah, aku kaget setengah mati. Inikah tokoh yang selama ini diceritakan orang dengan berbagai sebutan, seperti Kiai Khos, Kiai Nyentrik, 'Kiai jalanan', bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai Wali? Kiai yang sering menolong orang dengan menyamar sebagai orang lain?).
Selain ingin bersilaturahmi, tamu istimewaku itu minta izin untuk memberi sekedar 'uang jajan' kepada anak-anak TK Masyithoh yang letaknya di sebelah rumah. Dia minta tolong ibu guru TK menjelaskan kehadirannya, sebelum kemudian membagikan uang kepada anak-anak sambil mengatakan, "Mbah dimintakan ampun kepada Allah ya!"
Kemudian, setelah perkenalan aneh tersebut, tokoh yang suka menyebut dirinya Sarkub alias Sarjana Kuburan ini sering ke rumah dengan penampilan khas. Tidak lagi seperti petani; tapi campuran antara citra kiai, pengusaha, dan rakyat jelata: mengenakan jas, peci hitam yang lancip, selalu naik mobil yang cukup mewah --paling sering naik jeep Mercedes Benz-- dan memakai sandal japit atau bahkan kadang nyeker, tanpa alas kaki.
Kebiasaan istimewa tokoh ini saat rawuh ke rumah: duduk hanya sebentar, lalu minta izin ke dapur; lalu membagi-bagi uang kepada siapa saja yang ada di dapur. Lalu minta izin untuk memberi uang kepada ibuku (almarhumah nyai Ma'rufah Bisri), kepada mbakyuku (Nyai Muhsinah Cholil), dan ibunya anak-anak (almarhumah bu Siti Fatmah).
Kemudian bergegas kesana-kemari untuk memberikan uang tidak hanya kepada mereka yang dituju, tapi juga kepada siapa saja yang berpapasan; apakah itu anak-anak, santri, atau orang yang kebetulan lewat. Maka hampir semua penduduk seputar gubug kita hafal kebiasaan istimewa ini.
Aku perhatikan jasnya yang tampak kebesaran dan memiliki banyak saku itu, ternyata bukan sembarang jas. Rupanya saku-saku jas itu penuh dengan uang dan masing-masing, berisi uang dengan nominal sendiri-sendiri: saku ini berisi ratusan ribu; saku itu, lima puluhan ribu; yang ini, dua puluhan ribu; yang itu, sepuluhan... Jadi setiap orang 'punya saku'nya sendiri di jas tokoh kita ini.
Pasti kebiasaan membagi-bagi uang itu tidak hanya di tempat kami saja. Sebelumnya aku sudah mendengar kebiasaan 'kiai-pengusaha' dermawan ini. Dan ini hanyalah salah satu dari keistimewaan tokoh kiai yang mengaku pernah menjadi khadam atau pelayannya Mbah Kiai Romli Tamim Rejoso.
Kiai yang --seperti halnya Al-'arif biLlah Syeikh Bahlul dari Baghdad-- suka ziarah ke kuburan ini, 8 tahun yang lalu wafat setelah sehari sebelumnya ziarah ke makam Sunan Muria. Hari ini akan diperingati haul tokoh kita ini, KH. Shobiburrahman bin Anwar yang masyhur dikenal dengan panggilan Mbah Shobib, di kediamannya Menganti Jepara.



READ MORE

PHONE SEX DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM

Posted on with No comments
Phone sex atau telepon seks merupakan jenis virtual seks yang merujuk ke percakapan seksual ekspilisit antara dua orang atau lebih melalui telepon, kemudian yang melakukan percakapan tersebut berfantasi seksual. Perbincangan ini antara dua orang atau lebih melalui telepon yang bertujuan untuk menstimulasi gairah seksual hingga mencapai titik orgasme.  Phone sex juga bisa dijadikan ajang fantasi seks saat melakukan masturbasi. 
Telepon seks secara psikologis ternyata bisa membuat orang jadi romantis, atau sebaliknya liar. Percakapan bisa mengasyikkan hingga menghabiskan waktu berjam-jam.  Tapi dapat pula berlangsung singkat tanpa banyak basa-basi. Disitulah akan terlihat sejauh mana teknik berkomunikasi dikuasai. Langsung mengeluarkan kata-kata vulgar menandakan tidak bisa mengontrol diri.
Seiring perubahan zaman, phone sex tidak hanya dilakukan oleh pasangan yang saling mengenal. Jasa layanan phone sex dengan mudah didapati melalui media cetak maupun online. Ini dapat dikategorikan sebagai pornografi yang menggunakan audio (pendengaran) sebagai medianya.
Perilaku phone sex sama seperti rokok, alkohol dan obat-obatan terlarang, juga bisa berakibat kecanduan bagi penggunanya. Hal ini disebabkan ketika melakukan kegiatan seks, ada sejenis senyawa kimia yang dilepaskan di dalam tubuh dan memberikan rasa nyaman. Rasa nyaman inilah kemudian yang membuat seseorang ingin merasakannya tidak cukup sekali dan bahkan mulai terobsesi untuk mendapatkan rasa nyaman ini terus menerus.
Dorongan dan obsesi inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk terus melakukan aktivitas seksual secara berlebih dan beresiko tinggi. Seks kemudian menjadi hal terpenting dibanding aspek kehidupan lainnya. Kecanduan seks mungkin tidak akan merusak tubuh seperti halnya alkohol dan narkoba, namun perlahan tapi pasti perilaku seksual akan merusak kehidupan pribadi, baik itu pendidikan, karir, keluarga maupun kehidupan sosial.
Allah Swt memberi manusia pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia bersyukur.  Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Justru digunakan untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Untuk melihat yang tidak halal baginya, mendengar yang tidak patut didengar. Terlebih di era globalisasi ini dengan segenap kecanggihan teknologi dan informasi, baik dari media cetak maupun elektronik, seperti internet, televisi, handphone, majalah, koran, dan lain sebagainya, yang notabene-nya menyajikan gambar wanita-wanita yang terbuka auratnya. Ditambah lagi dengan maraknya layanan phone sex. Dengan mudahnya seseorang menikmati layanan tersebut.
Phone sex dalam maqashid asy-syari'ah kategori memelihara akal dapat dikatakan merusak akal. Akal sehat manusia tidak akan pernah menerima perlakuan yang merendahkan martabat kemanusiaannya demi kesenangan sesaat semata, demi materi duniawi semata.  Pencapaian tujuan kesenangan yang hanya bersifat duniawi, tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang menyenangkan di akhirat kelak. Allah adalah Maha Pemberi Kehormatan kepada yang dikehendakinya. Untuk itulah diturunkan hukum Islam dengan salah satu tujuanya menjaga harga diri.
Phone sex bukan merupakan perbuatan yang dapat memberikan kehormatan ataupun nikmat yang diridlai Allah. Phone sex merupakan perbuatan atau nikmat yang bersifat sementara bagi sebagian manusia dan merendahkan kehormatan dirinya serta melepaskan dirinya pula dari akidah, syariat, dan akhlak (Islami). Phone sex merupakan perbuatan yang menimbulkan kenikmatan yang memperdaya manusia.
Pada satu sisi, layanan phone sex bisa digunakan sebagai alternatif untuk menyalurkan hasrat seksual sementara. Itu dipilih karena dianggap lebih baik daripada zina atau menggunakan jasa pekerja seks secara langsung. Sedangkan di sisi lain, banyak sekali generasi penerus bangsa yang dengan mudah mengakses dan menggunakan jasa layanan phone sex
Bagi pemuda yang telah memiliki kemampuan dan hasrat seksual, Islam menganjurkan adanya pernikahan. Ini agar terjaga kehormatan dirinya dan tidak terjerumus pada zina maupun perbuatan yang mendekatinya. Namun bagi yang belum mampu, Rasulullah Saw menganjurkan untuk berpuasa. Sebagaimana hadits Nabi Saw:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابَ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ أَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّومِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءُ (رواه البخاري)
Wahai para pemuda! Barangsiapa yang sudah memiliki kemampuan (biologis maupun materi), maka menikahlah. Karena hal itu lebih dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah), maka hendaklah dia berpuasa karena hal itu menjadi benteng baginya.” (HR. al-Bukhari).[1]
Telepon seks merupakan zina telinga, lidah dan hati. Ini berarti bahwa layanan telepon seks statusnya menyediakan wadah untuk berzina dengan telinga, lidah dan hati. Itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw:
العَيْناَنِ زِنَاهُماَ النَّظَرُ وَ الأُذُنَانِ زِنَاهُماَ الإِسْتِمَاعُ وَ اللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَ الْيَدُ زِنَاهاَ الْبَطْشُ وَ الرِّجْلُ زِنَاهاَ الْخُطَا وَ الْقَلْبُ يَهْوَى وَ يَتَمَنَّى وَ يُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُكَذِّبُهُ (رواه مسلم)
Mata zinanya melihat, telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya memegang, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya gairah dan bayangan pikiran kotor. Sementara kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakan terjadinya zina sesungguhnya.” (HR. Muslim).[2]
Hukum Islam hadir bertujuan untuk membawa kemaslahatan di muka bumi. Mashlahah yang dapat dipakai setidaknya harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya:
Pertama: yaitu kemaslahatan harus sangat esensial dan primer. Maksudnya, kemaslahatannya yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia di dunia dan di akhirat. Layanan phone sex bukan merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Allah Swt telah mengatur pemenuhan tersebut melalui pernikahan.
Kedua, kemaslahatan sangat jelas dan tegas. Artinya, bentuk maslahat yang dimiliki suatu masalah telah jelas lebih besar dari pada mudharat-nya. Layanan telepon seks membawa kerusakan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang, meliputi kehidupan pribadi, keluarga, keuangan dan karir.
Ketiga, kemaslahatannya bersifat universal, yakni kemaslahatan tersebut bukan untuk kemaslahatan pribadi namun kemaslahatan untuk banyak orang. Memang bagi beberapa orang yang tidak bisa menyalurkan hasrat seksual kepada pasangan karena faktor jarak, layanan ini bisa menjadi alternatif daripada zina. Namun, bagi banyak orang secara umum layanan ini tidak mempunyai kemaslahatan. Malahan, kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar. 
 Keempat, kemaslahatan berdasarkan dalil universal, yaitu dalil yang tegas diakui syariat.  Al-Qur'an secara tegas melarang zina dan hal-hal yang mengantarkan padanya. Layanan phone sex merupakan prostitusi terselubung dan termasuk perbuatan yang mendekati zina. 
Berikut merupakan kaidah dalam mengambil mashlahah:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
Menolak kemafsadatan didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”[3]
Menurut kaidah di atas bahwa walaupun suatu hal mengandung kemaslahatan, namun jika terdapat mafsadat (kerusakan) didalamnya, maka sebaiknya ditinggalkan. Ini dikarenakan menghilangkan sebuah mafsadat lebih susah daripada menarik mashlahah. Mudharat yang terkandung dalam layanan phone sex lebih besar ketimbang mashlahah yang bisa didapat, sehingga layanan ini sudah seharusnya dilarang oleh pihak berwajib.
Allah Swt telah mengatur penyaluran hasrat seksual dengan sedemikian baik. Ada berbagai aturan yang harus dipenuhi jika hendak melakukan hubungan seksual dengan suami atau istrinya, bukan dengan operator penyedia layanan phone sex. Tidak ada alasan untuk melakukan phone sex apalagi menggunakan layanan phone sex. Terdapat bahaya yang timbul akibat seorang suami terlalu lama meninggalkan istrinya. Amirul Mu'minin Umar bin Khattab menetapkan peraturan, bahwa untuk para mujahidin diijinkan pergi berperang paling lama hanya selama enam bulan. Berangkat satu bulan, di medan perang empat bulan, dan kembali pulang selama satu bulan. Dari peraturan yang dibuat tersebut mencerminkan betapa pentingnya keharmonisan dalam keluarga, karena dari lingkup terkecil yakni keluargalah yang menentukan kekuatan sebuah negara.


[1] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Riyad: Darussalam, 2008), 438.
[2] Abi Husayn Muslim, Shahih Muslim, (Riyad: Darussalam, 2008), 1141.
[3] Moh. Adib Bisri, Risalah Qawaid Fiqh, (Kudus : Menara Kudus, 1977), 24

READ MORE

HUKUM NIKAH SIRRI ONLINE

Posted on with No comments
Proses akad pernikahan sirri online ini bisa dikatakan dengan akad nikah yang dilaksanakan dalam majelis yang berbeda (tidak satu tempat), dalam artian tidak bertatap muka secara fisik. Sehingga menurut pendapat dari kalangan Syafi’iah, Malikiyah dan Hanabilah, pernikahan sirri secara online tidak diperbolehkan. Sedangkan menurut kalangan Hanafiah memperbolehkan akad nikah yang tidak dilakukan dalam “satu majelis” secara fisik.[1]
Pengertian “satu majelis” oleh jumhur ulama dipahamkan dengan kehadiran mereka dalam satu tempat secara fisik, oleh karena itu apabila suatu akad pernikahan tidak dilaksanankan dalam satu tempat maka pernikahan tersebut tidak sah. Demikian juga apabila calon mempelai pria tidak dapat hadir dalam satu majelis pada waktu akad pernikahan dilangsungkan namun pria tersebut mengirimkan surat sebagai qabul-nya maka pernikahannya tetap tidak sah.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Sedangkan menurut pendapat yang shahih dari ulama Syafi’iyyah, ijab-qabul tidak boleh dilakukan melalui surat-menyurat, baik ijab-qabul dalam transaksi mu’amalat terlebih dalam melakukan suatu akad pernikahan. Mereka berpendapat bahwa ijab-qabul adalah suatu sarana untuk menunjukkan kedua belah pihak saling ridha akan adanya transaksi, dan ridha tidak bisa diyakinkan hanya dengan melalui sepucuk surat.
Solusi yang ditawarkan oleh ulama Syafi’iyyah adalah dengan mewakilkan akad kepada seseorang dan kemudian wakil tersebut hadir dalam akad pernikahan, jika demikian maka para ulama sepakat bahwa transaksi yang diwakilkan hukumnya sah. Oleh karena itu, menurut pandangan Syafi’iyyah ijab-qabul melalui surat tanpa mewakilkan tidak sah hukumnya.
Sedangakan menurut ulama dari kalangan Hanafiah, mereka berpendapat bahwa pengertian dari akad satu majelis bukan hanya dilihat dari kehadiran pihak secara fisik saja akan tetapi ijab dan qabul harus dilakukan dalam satu tempat dan secara kontinu serta saling berkesinambungan. Dalam hal ini ulama Hanafiah membolehkan akad nikah melalui surat asalkan surat tersebut dibacakan di depan para saksi dan langsung dijawab hal tersebut di katakan sebagai ijab dan qabul.[2]
Adapun menurut pendapat para ulama kontemporer mengenai hukum nikah sirri online, menurut pandangan KH. Arwani Faisal, wakil ketua lembaga Bahtsul Masail, mengatakan bahwa jika nikah sirri online itu akadnya abal-abal, jelas “haram” hukumnya. Dan juga apabila melakukan hubungan senggama maka termasuk perbuatan zina karena syarat dan rukun nikahnya itu hanya abal-abal.[3]
Pernikahan sirri online yang marak terjadi saat ini termasuk salah satu praktek perzinahan. Karena dalam akadnya si perempuan menggunakan wali yang tidak jelas, saksi yang tidak jelas, penghulunya hanya seorang yang berkedok sebagai orang yang mengaku alim pintar agama serta dalam melaksanakan ijab-qabul tidak berada dalam keadaan satu majelis secara langsung dengan bertatap muka. Akad satu majelis itu belum dikatakan sah apabila dilakukan hanya melalui video internet karena mengandung ketidak-pastian serta tidak dapat bertatapan langsung secara fisik dalam satu tempat.
Memahami dari penjelasan para ulama salaf serta ulama kontemporer yang terkait dengan kasus hukum yang terkandung dalam pelaksanaan akad nikah sirri online, tergambar dengan jelas bahwa nikah sirri online hukumnya tidak  sah, karena melihat pada praktik pelaksanaan nikah sirri online dan penjelasan mengenai akad pernikahan dari pandangan para ulama.
Praktik nikah sirri online ini terjadi karena adanya penawaran jasa nikah dari para oknum yang ingin meraup keuntungan kepada masyarakat awam dengan memfasilitasi nikah secara sirri dengan menggunakan media online. Tata cara pelaksanaanya juga sangat mudah karena calon mempelai pria dan wanita tidak harus datang untuk menemui si penghulu karena cukup menggunakan media online skype sudah dapat melangsungkan akad pernikahan, wali dan saksinya pun sudah disediakan oleh pihak penawar jasa. Dan akadnya pun dapat dilangsungkan meskipun calon mempelai dengan penghulunya tidak berada dalam satu tempat.
Dari sini jelas bahwa praktik nikah sirri online ini tidak sah untuk dilaksanankan karena semua unsur yang ada dalam pernikahan ini tidak jelas mulai dari yang menikahkan serta wali dan saksinya pun juga tidak jelas dapat diartikan bahwa wali dan saksinya bukan dari pihak perempuan.
Praktik nikah sirri online ini merupakan suatu alasan bagi para pelaku untuk menghalalkan perzinahan dengan berkedok “telah melaksanankan akad nikah”, supaya dapat dengan bebas melakukan hubungan biologis dengan lawan jenisnya. Akad dalam nikah sirri online ini dapat dikatakan tidak sesuai atau tidak ada keterkaitan dalam pemikiran para ulama salaf mengenai akad yang harus dilaksanakan dalam satu majelis.
Begitu juga dikuatkan oleh penjelasan dari beberapa pendapat yang dikeluarkan oleh para ulama kontemporer yang menganggap bahwa akad yang dilakukan dalam nikah sirri online hukumnya haram karena pelakunya tidak berada dalam satu tempat serta rukun dalam pernikahannya hanyalah rekayasa atau abal-abal. 
Dapat diartikan bahwa akad dalam nikah sirri online ini hanya merupakan rekayasa atau akad yang tidak jelas, dalam artian hanya sebuah abal-abal saja karena semua rukun tidak terpenuhi juga dilakukan tidak dalam satu majelis oleh para penyalur jasa dan calon mempelai, dengan mengatas-namakan sebagai sebuah pernikahan yang dianggap sah menurut agama supaya dapat melakukan hubungan biologis dengan bebas kepada lawan jenisnya.



[1] Wahbah az-Zuhaili, Fiqh al-Islam wa ‘Adilatuhu, jilid 9 (Jakarta: Gema Insani, 2011), 57.
[2] Ibid.
[3] http://www.nu.or.id/18/03/2015/LBMNU/nikah-sirri-online-jadi-ajang-perzinahan
READ MORE

HACKER DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM

Posted on with 2 comments
Hacker yang dalam bahasa Indonesia-nya disebut peretas adalah orang yang mempelajari, menganalisa dan selanjutnya bila menginginkan, bisa membuat,  memodifikasi atau bahkan mengeksploitasi sistem yang terdapat di sebuah perangkat, seperti perangkat lunak komputer dan perangkat keras komputer seperti programer, administrasi dan hal-hal lainnya terutama keamanan.
Hacker adalah sekumpulan atau beberapa kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan sharing informasi bebas tanpa batas.  Hacker adalah sesorang yang tertarik untuk mengetahui secara mendalam mengenai kerja suatu sistem, komputer atau jaringan komputer. Mereka terdiri dari para programmer yang ahli jaringan. Mereka juga lah yang berjasa membangun internet lewat pengembangan sistem operasi UNIX.
Hacker memiliki konotasi negatif karena kesalah-pahaman masyarakat akan berbeda istilah tentang hacker dan cracker. Banyak yang memahami hacker-lah yang mengakibatkan kerugian pihak tertentu seperti mengubah tampilan suatu situs web (defacing), menyisipkan kode-kode virus, dsb. Padahal, mereka adalah cracker.
Cracker-lah yang menggunakan celah-celah keamanan yang belum diperbaiki oleh pembuat perangkat lunak untuk menyusup atau merusak suatu sistem. Atas alasan ini biasanya para hacker dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1.       Whaite Hat Hackers.
2.       Black Hat Hackers.

Melakukan tindak pidana hacker dalam hukum positif merupakan tindak pidana yang diatur dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 (ITE).  Sedangkan bila ditinjau dari hukum pidana Islam, hacking merupakan suatu jinayah atau jarimah karena menimbulkan keresahan dalam masyarakat terkait dengan kemaslahatan masyarakat, dan juga melanggar peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Jarimah ini masuk dalam jarimah ta’zir karena tidak diatur secara khusus dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.
Berbeda dengan jarimah hudud, qishash dan diyat, pada jarimah ta’zir asas legalitas tidak diterapkan begitu teliti dan ketat. Hal ini didasarkan bahwa pada jarimah ta’zir hakim memilih kewenangan yang luas untuk menetapkan suatu jarimah dan hukumannya sesuai dengan ketentuan kemaslahatan. Pada jarimah ta’zir ini, al-Qur’an dan al-Hadist tidak menetapkan secara terperinci baik bentuk jarimah maupun hukumannya. Oleh karena itu, hakim boleh memberikan hukuman terhadap pelaku kejahatan yang belum ada aturannya (jarimah ta’zir) jika tuntutan kemaslahatan menghendakinya. Dari sini muncul kaidah:
التَّعْزِيْرُ يَدُورُ مَعَ الْمَصْلَحَةِ
Hukum Ta’zir berlaku sesuai dengan tuntutan kemaslahatan.[1]
Dinamisasi hukum pidana Islam dalam menjawab bentuk-bentuk kejahatan baru yang belum ada aturannya sehingga setiap bentuk kejahatan baru yang dianggap telah merusak ketenangan dan ketertiban umum dapat dituntut dan dihukum. Suatu konsep yang kemudian diikuti oleh hukum positif karena berpegang pada asas legalitas secara kaku menyebabkan kurangnya perlindungan terhadap kepentingan masyarakat.
Banyak kejahatan-kejahatan baru yang tidak diatur dalam undang-undang tidak dapat dipidana padahal telah mengganggu ketertiban masyarakat. Hal ini terlihat (sebagai contoh) pada perundang-undangan Perancis, Jerman dan Rusia dalam memegang asas legalitas. Pada awalnya, hukum positif negara-negara tersebut memegang secara teliti asas legalitas. Hakim hanya menjalankan undang-undang. Ia tidak bisa melebihi dan mengurangi bentuk dan hukuman yang telah tercantum dalam undang-undang. Sementara banyak bentuk kejahatan-kejahatan baru yang belum diatur oleh undang-undang tidak dapat dipidana padahal telah mengorbankan kepentingan masyarakat.
Jarimah ta’zir, secara etimologis berarti menolak atau mencegah.  Sementara pengertian terminologis ta’zir adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan kadar hukumnya oleh syara’ dan menjadi kekuasaan penguasa atau hakim.[2] Pengertian ta’zir secara terminologis, yang dikehendaki dalam konteks fiqih jinayah adalah seperti yang dikemukakan dibawah ini:
التَّعْوِيْرُ هُوَ الْعُقُوبَاتُ الَّتِي لَمْ يَرُدَّ مِنَ الشَّرْعِ بِبَيَانِ مِقْدَارِهاَ وَ تَرْكِ تَقْدِيْرِهاَ لِوَلِيِّ الأَمْرِ
Tazir adalah bentuk hukuman yang tidak disebutkan ketentuan oleh syara’ dan menjadi kekuasaan waliyyul amri atau hakim.
  Dalam hukum Islam, suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana, dan unsur-unsur tersebut harus terdapat pada perbuatan untuk dapat digolongkan sebagai “jarimah”. Sedangkan dasar dari larangan dan hukuman terhadap perbuatan itu adalah untuk memelihara kepentingan masyarakat itu sendiri sehingga terciptalah kemaslahatan umat.
Dari rumusan tersebut, hacking dapat dikatakan sebagai salah satu kejahatan apabila telah memenuhi unsur:
1.       Unsur umum
a.     Rukun syar’i atau unsur formil.
b.    Rukun  maddi  atau unsur  material.
c.     Rukun  adabi atau  unsur  formil.
2.       Unsur khusus
Adanya perbuatan memasuki suatu sistem tanpa izin dari pemiliknya.
  Dengan demikian, hacking dapat dikatakan sebagai perbuatan pidana yang merupakan salah satu kejahatan karena telah memenuhi unsur-unsur jarimah, baik unsur umum maupun unsur khusus. Disamping itu, kejahatan hacking dapat dikenai hukuman ta’zir karena kejahatan ini sanksinya tidak ditentukan oleh al-Qur’an dan hadist melainkan perbuatan yang sanksinya ditentukan oleh ulil amri dengan prinsip, nilai-nilai dan tujuan syariat Islam, yaitu terciptanya kemaslahatan umat. Untuk itu, kejahatan hacking dapat dijatuhi hukuman ta’zir.
Ta’zir berarti hukuman yang berupa memberi pelajaran kepada pelaku kejahatan sehingga hukuman tersebut dapat menghalanginya untuk tidak kembali pada jarimah yang pernah dilakukannya, atau dengan kata lain membuatnya jera. Mengenai batas minimal dan maksimal hukuman ta’zir, maka tidak terdapat ketentuan didalam al-Qur’an dan hadis hukuman ta’zir tersebut semuanya diserahkan kepada ulil amri, khususnya hakim.
Seorang hakim dalam menjatuhkan hukuman pada pelaku kejahatan yang dikenai hukuman ta’zir berdasarkan pada ijtihad yang dapat memberikan pengaruh preventif (memberikan dampak positif bagi orang lain sehingga tidak melakukan perbuatan yang dilakukan oleh pelaku), represif (memberikan dampak positif bagi pelaku untuk tidak mengulangi perbuatan yang menyebabkan dikenai hukuman ta’zir), kuratif (mampu membawa perbaikan sikap dan perilaku pelaku di kemudian hari), dan edukatif (mampu menumbuhkan hasrat pelaku untuk mengubah pola hidupnya, bukan takut kepada hukuman melainkan kepada  Allah).
Demikian pula terhadap kejahatan hacking dapat dikenai hukuman ta’zir, dalam menentukan hukumannya juga ditentukan oleh hakim melalui ijtihad-nya.  Hal ini dikarenakan ijtihad merupakan suatu alasan yang mendukung pengembangan materi-materi hukum Islam untuk menanggulani kasus-kasus atau perkara-perkara baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus sebagai faktor yang penting dalam pengembangan hukum Islam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan kenyataan sejarah yang selalu berubah.




[1] Jaih Mubarok dan Enceng Arif Faizal,  Kaidah Fiqh Jinayah: Asas-Asas  Hukum Pidana Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), 48 -49.
[2] Rahmad Hakim, Hukum Pidana Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm. 140-141.
READ MORE

LARANGAN MENIKAH

Posted on with No comments
Manusia adalah makhluk yang lebih dimuliakan dan di utamakan Allah dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Allah telah menetapkan adanya aturan tentang perkawinan bagi manusia dengan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar. Orang tidak boleh berbuat semaunya. Allah tidak membiarkan manusia berbuat semaunya seperti binatang, kumpul dengan lawan jenis hanya menurut seleranya, atau seperti tumbuh-tumbuhan yang kawin dengan perantaraan angin. Allah telah memberikan batas dengan peraturan-peraturan-Nya, yaitu dengan shariat yang terdapat dalam Alquran dan sunnah Rasul-Nya dengan hukum-hukum perkawinan.[1]
Demi menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia Allah memberikan hukum sesuai dengan martabatnya berupa pernikahan. Sehingga hubungan laki-laki dan wanita diatur secara terhormat dan berdasarkan saling meridhai, yang dengan dilaksanakannya akad nikah sebagai lambang adanya rasa ridha meridhai, dengan dihadiri para saksi yang menyaksikan kedua pasangan laki-laki dan perempuan telah saling terikat.[2]
Allah telah mensyariatkan pernikahan dengan berbagai tujuan dan hikmahnya. Di samping itu, Hukum perkawinan Islam juga menganjurkan seorang muslim untuk bersikap selektif dalam menentukan calon pasangan hidupnya. Yakni bisa memilih mana yang boleh untuk dinikahi dan mana yang tidak boleh dinikahi. Walaupun pada dasarnya seorang laki-laki berhak memilih wanita mana saja yang akan dinikahinya, begitu pula sebaliknya. Namun, terdapat batasan-batasan yang mana batasan ini bersifat larangan.[3]
Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqh Sunnah menyebutkan tidak semua perempuan dapat dinikahi. Akan tetapi, perempuan yang akan menikah disyaratkan bukan mahram bagi laki-laki yang akan menikahinya, baik keharaman tersebut bersifat abadi atau selamanya (al-tahrim al-mu’abbad) maupun keharaman yang bersifat sementara (al-tahrim al-mu’aqqat). Keharaman yang bersifat abadi atau selamanya menyebabkan seorang perempuan haram dinikahi oleh laki-laki selamanya. Sedangkan keharaman yang bersifat sementara hanya mengharamkan perempuan untuk dinikahi oleh seorang laki-laki dalam kurun waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu. Dimana jika kondisi tersebut berubah maka ia menjadi halal.[4]



[1] H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), 2.
[2] Muhammad Thalib, Perkawinan Menurut Islam, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1993), 1.
[3] Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan, (Yogyakarta : Liberty, 2007) 31.
[4] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, 2, (Beirut Lebanon: Dar El-Fikr, 2006), 153.
READ MORE

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter