Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

ZAMAN EDAN

Posted on with No comments
Zaman edan dilukiskan sebagai keadaan hilangnya kebenaran hakiki, merosotnya tatanan moral masyarakat, tidak ada lagi yang dapat dijadikan panutan, layaknya seperti halnya kedaan nihilisme yang diramalkan oleh Nietzsche. Keadaan di mana nilai-nilai mulai pudar dan runtuh, manusia yang semakin kehilangan kemanusiaannya, Tuhan sebagai panutan sudah mati, tidak dapat dijadikan pedoman.
Kegilaan ini dikonstruksi oleh keadaan yang terjadi di sekitarnya. Jika Nietzsche menganggap nihilisme terjadi akibat runtuhnya dominasi jaminan absolut yakni Tuhan, maka meurut Ranggawarsita zaman edan disebabkan oleh semakin pudarnya kasekten dari seorang Raja atau pemimpin karena sudah meninggalkan kebenaran sejati, berlindung di balik wajah  kekuasaan, yang mengakibatkan semakin semrawut dan morat-maritnya keadaan rakyatnya. Kegilaan zaman ini bisa dilihat dalam berbagaikategorinya, yakni:
1.     Keadaan Negara yang telah rusak;
Rusaknya sebuah Negara tentu dikarenakan rusaknya aparat yang mengurusinya.  Ranggawarsita menyebutkan bahwa saat zaman edan adalah ketika para Rajanya, Patih, dan seluruh aparatur Negara sudah berlaku tidak jujur, suka menfitnah, gemar menjilat, piawai bersilat lidah, dan ketagihan korupsi. Mereka tidak lagi menaati aturan-aturan yang termaktub. Keruntuhan moral inilah yang menyebabkan akan datangnya zaman kutukan (Kala Bendhu).
Keadaan yang terjadi pada saat Ranggawarsita masih hidup, tidak lebih baik dari keadaan sekarang, bahkan cenderung lebih parah. Kasus korupsi yang terjadi di Negara ini sudah begitu mendarah daging di setiap elemen aparatur Negara, baik di tingkat yang paling bawah sampai paling atas. Tidak terhitung banyaknya kasus yang melibatkan mereka. Lebih parahnya kasus-kasus tersebut seperti menguap tidak ada penyelesaiannya.
2.     Banyak orang meninggalkan aturan;
Aturan, hukum, perundang-undangan, sudah tidak lagi bermakna. Moralitas tidak lagi bernilai. Hukum sudah tidak bisa lagi ditegakkan. Hukum bisa dibeli pada saat sekarang.  Kebenaran bisa diputar-balikkan, diproduksi, dan dipaksakan. Praktek-prakter korupsi, manipulasi, yang terjadi di Negara ini dan semakin meluasnya kejahatan-kejahatan yang terjadi di masyarakat, menunjukkan orang-orang saat itu sudah meninggalkan aturan-aturan yang ada.
3.     Kehidupan masyarakat semakin kacau
Keadaan Negara yang telah rusak, dan banyaknya orang-orang yang sudah meninggalkan aturan, menjadikan kehidupan masyarakat menjadi semrawut, morat-marit, penuh kekacauan. Masyarakat benar-benar mengalami kekacauan. Mereka seperti mendapat kutukan dari Kala Bendhu (kemarahan), sebab mengejar kepentingan pribadi atau golongan. Yang ada hanyalah hukum rimba, siapa yang kuat adalah yang menang. Watak angkara murka ini menguasai keadaan, orang sudah lupa akan arti persahabatan dan kemanusiaan. Masing-masing hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri sendiri maupun golongan.
4.     Benar dan salah tidak dapat lagi dibedakan
Ini menjadi semacam puncak dari kegilaan zaman itu sendiri. Ketika sudah tidak dapat lagi dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Manusia berada dalam titik nadir.  Semua nilai dibalikkan sesuai kepentingan tertentu, sampai agamapun dijadikan sebagai alat. Kebenaran seakan pudar, semu, absurd. Kebenaran dikendalikan oleh kelompok-kelompok tertentu, demi tujuan tertentu pula. Orang-orang yang bersikap sopan santun jadi terbelakang, dan sebaliknya yang ada hanyalah kepentingan-kepentingan, hawa nafsu, menjadi utama.
Kategori-kategori kegilaan atau keedanan di atas, sebenarnya bermuara pada satu titik, yakni kekuasaan. Kekuasaan inilah yang pada akhirnya menjadi kendali, pusat dari kebenaran itu sendiri, kebenaran-kebenaran itu dibentuk, dan dengan kebenaran seseorang menguasai dan menciptakan sebuah peradaban.
Kekuasaan di sini sangat erat kaitannya dengan konstruk kebenaran-kebenaran yang didasari oleh wacana-wacana atau pengetahuan yang terbentuk di dalam masyarakat itu sendiri. Wacana-wacana yang sedang berkembang atau dikembangkan di masyarakat menjadi semacam senjata ampuh untuk ‘menguasai’ sebuah tatanan masyarakat. Hal ini dikarenakan kekuasaan selalu mempunyai hubungan timbal balik dengan sebuah wacana atau pengetahuan. Seperti yang dikatakan Foucault:

“Kekuasaaan menghasilkan pengetahuan. Kekuasaan dan pengetahuan saling terkait, tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandalkan serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan”.
Sebutan “gila” disorongkan oleh wacana yang berkembang terhadap orang lain atau kelompok yang berbeda  dengannya. Wacana-wacana inilah yang sebenarnya memangku sebuah kekuasaan. Dan lewat wacana yang dibentuk inilah kebenaran juga dapat diproduksi.  Dan melalui kebenaran timbullah efek kuasa dan menguasai.

Kuasa apapun bentuknya, menjadi elemen penting dalam pembentukan sebuah peradaban. Rakyat ataupun pengikut dipaksa untuk mengikuti kuasa tersebut, bahkan juga Sang Raja. Akibatnya, seluruh tatanan kehidupan menjadi rusak dan absurd.
READ MORE

HARAMKAH MEMILIH PIMPINAN NON-ISLAM?

Posted on with No comments
Assalamu’alaikum wr wb
Redaksi NU Online yang terhormat. Hampir setiap kali menjelang pemilihan, kerap beredar isu-isu miring yang melekat pada para calon pemimpin terutama isu-isu sensitif seperti liberal dari segi ekonomi, antek partai terlarang, rasial, atau keyakinan agama. Sedangkan sementara ini ada benar-benar orang non muslim yang menjadi pemimpin. Yang saya tanyakan, apakah kita sebagai seorang muslim boleh memilih pemimpin non muslim? Terima kasih atas keterangannya. (Abdurrahman/Jakarta)

Jawaban
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Penanya yang budiman. Semoga Allah merahmati kita semua. Pemimpin menempati posisi penting dalam Islam. Karena pemimpin memegang kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak mulai dari kesehatan, transportasi, tata kelola sumber daya alam, kesejahteraan, dan pelbagai kebijakan publik lainnya.
Penanya yang budiman, ulama berbeda pendapat perihal memilih pemimpin dari kalangan non muslim. Misalnya Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i yang wafat di abad 8 H. Ia menyatakan dengan jelas keharaman memilih pemimpin dan juga aparat dari kalangan kafir dzimmi.
وَلَا يجوز تَوْلِيَة الذِّمِّيّ فِي شَيْء من ولايات الْمُسلمين إِلَّا فِي جباية الْجِزْيَة من أهل الذِّمَّة أَو جباية مَا يُؤْخَذ من تِجَارَات الْمُشْركين. فَأَما مَا يجبى من الْمُسلمين من خراج أَو عشر أَو غير ذَلِك فَلَا يجوز تَوْلِيَة الذِّمِّيّ فِيهِ، وَلَا تَوْلِيَة شَيْء من أُمُور الْمُسلمين، قَالَ تَعَالَى: {وَلنْ يَجْعَل الله للْكَافِرِينَ على الْمُؤمنِينَ سَبِيلا} وَمن ولى ذِمِّيا على مُسلم فقد جعل لَهُ سَبِيلا عَلَيْهِ.
Tidak boleh mengangkat dzimmi untuk jabatan apapun yang mengatur umat Islam kecuali untuk memungut upeti penduduk kalangan dzimmi atau untuk memungut pajak transaksi jual-beli penduduk dari kalangan musyrikin. Sedangkan untuk memungut upeti, pajak seper sepuluh, atau retribusi lainnya dari penduduk muslim, tidak boleh mengangkat kalangan dzimmi sebagai aparat pemungut retribusi ini. Dan juga tidak boleh mengangkat mereka untuk jabatan apapun yang menangani kepentingan umum umat Islam.
Allah berfirman, “Allah takkan pernah menjadikan jalan bagi orang kafir untuk mengatasi orang-orang beriman.” Siapa yang mengangkat dzimmi sebagai pejabat yang menangani hajat muslim, maka sungguh ia telah memberikan jalan bagi dzimmi untuk menguasai muslim. (Lihat Badruddin Al-Hamawi As-Syafi’i, Tahrirul Ahkam fi Tadbiri Ahlil Islam, Daruts Tsaqafah, Qatar, 1988).
Sementara ulama lain yang membolehkan pengangkatan non muslim untuk jabatan publik tertentu antara lain Al-Mawardi yang juga bermadzhab Syafi’i. Ulama yang wafat pada pertengahan abad 5 H ini memberikan tafshil, rincian terhadap jabatan.
ويجوز أن يكون هذا الوزير من أهل الذمة وإن لم يجز أن يكون وزير التفويض منهم
Posisi pejabat ini (tanfidz/eksekutif) boleh diisi oleh dzimmi (non muslim yang siap hidup bersama muslim). Namun untuk posisi pejabat tafwidh (pejabat dengan otoritas regulasi, legislasi, yudikasi, dan otoritas lainnya), tidak boleh diisi oleh kalangan mereka. (Lihat Al-Mawardi, Al-Ahkamus Sulthoniyah wal Wilayatud Diniyah, Darul Fikr, Beirut, Cetakan 1, 1960, halaman 27).
Al-Mawardi dalam Al-Ahkamus Sulthoniyah menguraikan lebih rinci. Menurutnya, kekuasaan dibagi setidaknya menjadi dua, tafwidh dan tanfidz. Kuasa tafwidh memiliki cakupan kerja penanganan hukum dan analisa pelbagai kezaliman, menggerakkan tentara dan mengatur strategi perang, mengatur anggaran, regulasi, dan legislasi. Untuk pejabat tafwidh, Al-Mawardi mensyaratkan Islam, pemahaman akan hukum agama, merdeka.
Sementara kuasa tanfidz (eksekutif) mencakup pelaksanaan dari peraturan yang telah dibuat dan dikonsep oleh pejabat tafwidh. Tidak ada syarat Islam, alim dalam urusan agama, dan merdeka.
Menurut hemat kami, memilih pajabat eksekutif seperti gubernur, walikota, bupati, camat, lurah, atau ketua RW dan RT dari kalangan non muslim dalam konteks Indonesia dimungkinkan. Pasalnya, pejabat tanfidz itu hanya bersifat pelaksana dari UUD 1945 dan UU turunannya. Dalam konteks Indonesia pemimpin non muslim tidak bisa membuat kebijakan semaunya, dalam arti mendukung kekufurannya. Karena ia harus tunduk pada UUD dan UU turunan lainnya. Pemimpin non muslim, juga tidak memiliki kuasa penuh. Kekuasaan di Indonesia sudah dibagi pada legislatif dan yudikatif di luar eksekutif. Sehingga kinerja pemimpin tetap terpantau dan tetap berada di jalur konstitusi yang sudah disepakati wakil rakyat. Mereka seolah hanya sebagai jembatan antara rakyat dan konstitusi.
Kecuali itu, sebelum menjadi pemimpin, mereka telah melewati mekanisme pemilihan calon, penyaringan ketat dan verifikasi KPU. Mereka juga sebelum dilantik diambil sumpah jabatan. Jadi dalam hal ini kami lebih cenderung sepakat dengan pendapat Al-Mawardi yang membolehkan non muslim menduduki posisi eksekutif. Di sinilah letak kearifan hukum Islam.
Sedangkan ayat pengharaman memilih pemimpin non muslim sering beredar menjelang pemilihan. Sebut saja ayat berikut ini.
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 
“Hai orang-orang beriman, janganlah jadikan orang-orang yang membuat agamamu sebagai olok-olok dan mainan baik dari kalangan ahli kitab sebelum kamu maupun orang kafir sebagai wali. Bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang yang beriman.”
Apakah kata “wali” yang dimaksud itu pemimpin? Penerjemahan “wali” inilah, menentukan jawaban dari yang saudara Abdurrahman pertanyakan. Imam Ala’uddin Al-Khazin menyebutkan dalam tafsirnya sebagai berikut.
والمعنى لا تتخذوا أولياء ولا أصفياء من غير أهل ملتكم ثم بين سبحانه وتعالى علة النهي عن مباطنتهم فقال تعالى: لا يَأْلُونَكُمْ خَبالًا
Maknanya, “Janganlah kamu jadikan orang-orang yang tidak seagama denganmu sebagai wali dan kawan karib.” Allah sendiri menjelaskan alasan larangan untuk bergaul lebih dengan sehingga saling terbuka rahasia dengan mereka dengan ayat “Mereka tidak berhenti menjerumuskanmu dalam mafsadat”. (Lihat Al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut).
Pengertian “wali” di atas ialah teman dekat. Sehingga saking dekatnya, tidak ada lagi rahasia antara keduanya. Ayat ini turun dalam konteks perang. Sehingga sangat berisiko bergaul terlalu dekat dengan ahli kitab dan orang-orang musyrik dalam suasana perang karena ia dapat mengetahui segala taktik perang, pos penjagaan, dapur umum, dan segala strategi dan rencana perang yang dapat membahayakan pertahanan umat Islam. Sementara komunitas-komunitas sosial saat itu berbasis agama.
Karenanya, mencermati ketarangan ulama di atas kita akan menemukan tidak sambung dan tidak tepat kalau ayat ini dijadikan dalil sebagai pengharaman atas pengangkatan calon pemimpin dari kalangan non muslim. Menurut hemat kami, kitab-kitab terjemah Al-Quran yang mengartikan “wali” sebagai pemimpin ada baiknya menelaah kembali tafsir-tafsir Al-Quran.
Saran kami berhati-hatilah memilih pemimpin baik muslim maupun non muslim. Karena mereka ke depan akan mengatur hajat hidup orang banyak. Kita perlu melihat integritas calon dan track record mereka. Kami juga berharap kepada warga untuk tidak mudah terporovokasi oleh isu-isu SARA menjelang pemilihan.
Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bisa penjelasan kami ditangkap dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. Wb
*Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/63567/memilih-pemimpin-non-muslim-bolehkah


READ MORE

POLEMIK PEMIMPIN KAFIR (KAJIAN SURAT AL-MAIDAH AYAT 51)

Posted on with 1 comment
Pemimpin adalah sosok yang sangat penting dalam sebuah kelompok, baik lingkup sempit maupun luas, eksistensi dan orientasi kelompok sangat ditentukan oleh pemimpinnya, apakah nanti akan dibawa ke arah kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran ataukah diarahkan menuju kehancuran. Oleh karena itu, sudah merupakan tanggung jawab setiap personal untuk selektif dan berhati-hati dalam memilih pemimpin.
Pemimpin adalah komponen yang paling urgen yang harus melanggengkan keadilan, prinsip persamaan sebagaimana yang diajarkan al-Qur’an dan merupakan pemegang amanah dari Tuhan. Prinsip kepemimpinan yang paling pokok adalah keadilan, jadi setiap personal memiliki porsi hak dan kewajiban yang linear. Dalam surat al-Maidah ayat 51 ditegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya-(mu); sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.
Ayat di atas dijadikan legitimasi oleh sebagian golongan yang menyatakan bahwa memilih pemimpin dari kalangan kafir hukumnya haram. Perbedaan penafsiran dalam ayat ini berpangkal dari ketidak-samaan para ulama dalam mendefinisikan makna wali atau auliya’. Hamka dalam tafsir al-Azhar menjelaskan,
“Wajib bagi kita mengambil pemimpin dari orang muslim. Allah memberi peringatan dengan tegas bahwa memilih orang kafir menjadi pemimpin adalah perangai kelakuan orang munafik. Pada ayat ini ditegaskan kepada orang-orang beriman agar tidak mengambil orang kafir sebagai pemimpin. Ini dikarenakan mereka tidak percaya kepada Tuhan, dan keingkaran mereka kepada Tuhan dan peraturan-peraturan Tuhan akan menyebabkan rencana kepemimpinan mereka tidak tentu arah.”[1]
Dalam terjemahan al-Qur’an bahasa Indonesia, kata Auliya’ juga diartikan sebagai “pemimpin”, hal ini kemudian memunculkan kesalah-pahaman bagi orang awam yang memahami ayat ini secara tekstual atau sebagaimana yang tertulis dalam terjemahan al-Qur’an tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah tepat apabila kata auliya’ atau wali diterjemahkan sebagai “pemimpin” yang konotasinya mengarah pada pemimpin politik?
Dalam surat al-Maidah ayat 51 tertulis “ba’dluhum auliyau ba’dlu”, jika kata auliya’ pada redaksi ayat tersebut diartikan pemimpin atau yang memiliki kuasa atas yang lain, maka seharusnya -sesuai kaidah nahwiyah- ada huruf jer ‘ala setelah kata ba’dlun yang menunjukkan makna isti’la’ atau superioritas sebagian atas sebagian yang lain. Tapi dalam redaksi ayat tersebut Allah menyebutkan secara langsung “ba’dluhum auliyau ba’dlu”, yang berarti ada hubungan linear antara dua golongan yang berelasi dalam konsep wali pada ayat tersebut.
M. Quraish Shihab menafsirkan auliya yang dimaksud dalam surat al-Maidah ayat 51 adalah teman-teman dekat.[2] Dan M. Quraish Shihab berkesimpulan pada ayat 51 ini, bahwa kata auliya yang dimaksud di dalam kata ini adalah cinta kasih yang mengantar kepada meleburnya perbedaan-perbedaan dalam satu wadah, menyatunya jiwa yang tadinya berselisih, saling terkaitannya akhlak dan miripnya tingkah laku sehingga anda dapat melihat dua orang yang saling mencintai bahkan seorang yang memiliki satu jiwa, satu kehendak, dan satu perbuatan, yang satu tidak akan berbeda dengan yang lain dalam perjalanan hidup dan tingkat pergaulan.[3]
Thabataba’i dalam tafsirnya al-Mizan, memaknai kata auliya’ sebagai bentuk kedekatan kepada sesuatu yang menjadikan terangkat dan hilangnya batas antara yang mendekat dan yang didekati dalam tujuan kedekatan itu. Kalau tujuan dalam konteks ketaqwaan dan pertolongan, maka auliya’ adalah penolong-penolong. Apabila dalam konteks pergaulan dan kasih sayang, maka ia adalah ketertarikan jiwa sehingga auliya’ adalah yang dicintai yang menjadikan seseorang tidak dapat tidak tertarik kepadanya, memenuhi kehendaknya dan mengikuti perintahnya. Dan kalau dalam hal ketaatan maka auliya’ adalah siapa yang memerintah dan harus ditaati ketetapannya.[4]
Jadi, pemaknaan kata auliya’ dengan arti pemimpin adalah usaha terjemah yang tergesa-gesa dan tak mempertimbangkan tekstualitas dan kontekstualitas ayat. Di sisi lain, kita tidak bisa semata-mata memahami ayat ini sebagai larangan memilih pemimpin kafir dan atau kecaman untuk tidak bergaul, berteman, bersahabat dengan orang kafir. Perbedaan pada penafsiran auliya’ dalam ayat ini, keduanya sama-sama akan menyuburkan isu sensitifitas antar Islam dan non-Islam jika masing-masing tidak dipahami sesuai konteks masa turunnya ayat dan konteks relasi Islam dan kafir pada masa sekarang. Larangan dan peringatan memilih pemimpin kafir pada waktu itu (masa turunnya ayat) adalah bentuk kewaspadaan terhadap kelompok Yahudi dan Nasrani yang mengajak orang mukmin untuk murtad. Sedangkan yang terjadi sekarang, kebebasan beragama sudah dilindungi hukum Negara. Pemaksaan seperti itu tidak perlu lagi menjadi kekhawatiran.
  Penulis tidak secara langsung menggunakan kata ‘non-muslim’ dalam keterangan di atas. Hal ini dikarenakan, terma “kafir” dalam ayat tersebut seharusnya tidak kita pahami sebatas pada mereka yang ingkar pada Allah saja. Menurut Quraisy Syihab dalam tafsirnya al-Mishbah, kata “kafir” biasa dipahami dalam arti siapa yang tidak memeluk agama Islam. Makna ini tidak keliru, tetapi perlu diingat bahwa al-Qur’an menggunakan kata ‘kafir’ dalam berbagai bentuknya untuk banyak arti yang puncaknya adalah pengingkaran terhadap wujud atau keesaan Allah, disusul dengan keengganan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya walau tidak mengingkari wujud dan keesaan-Nya, sampai kepada tidak mensyukuri nikmatnya yaitu kikir. Seperti yang ada pada surat Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Qs. Ibrahim:7)
Atas dasar itu dapat dikatakan bahwa kufur atau kafir adalah segala aktifitas yang bertentangan dengan tujuan agama, dan dengan demikian walaupun ayat ini (surat al-Maidah ayat 51) turun dalam konteks melarang orang-orang beriman menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin yang diberi wewenang menangani urusan orang-orang beriman, tetapi larangan itu juga mencakup orang yang dinamai muslim yang melakukan aktifitas yang bertentangan dengan tujuan ajaran Islam. Larangan ini adalah karena kegiatan mereka secara lahiriyah bersahabat, menolong dan membela umat islam, tetapi dengan halus mereka menggunting dalam lipatan.[5]
Jadi, jika ayat ini dijadikan legitimasi pelarangan memilih pemimpin kafir (yang dalam pemahaman umum adalah orang non-muslim), maka tidak tepat. Ini dikarenakan kepemimpinan di Negara kita adalah kepemimpinan yang bersifat politis bukan keagamaan. Selain itu, tidak dibenarkan bagi pemimpin di Negara ini atau siapapun untuk memaksakan orang lain dalam beragama. Ketentuan ini dilindungi oleh undang-undang Negara Republik Indonesia pasal 29 ayat 2 yang berbunyi:
“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Jadi, tidak ada kekhawatiran sebagaimana konteks ketika ayat ini diturunkan. Tetapi tidak lantas ayat ini tidak sesuai untuk konteks masa sekarang, pesan moral dalam ayat ini perlu kita perhatikan adalah peringatan bagi kita untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam memilih pemimpin. Kebebasan beragama sudah dilindungi konstitusi hukum Negara, tugas kita adalah memilih pemimpin yang ideal. Menurut Ibnu Taimiyah, adil adalah syarat bagi seorang pemimpin yang ideal. Ibnu Taimiyah mengatakan:
“Kezaliman mengakibatkan kesengsaraan, keadilan melahirkan kemuliaan. Allah membantu Negara yang adil meskipun kafir, dan tidak membantu Negara yang dzalim meskipun beriman.”[6]
Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, kafir berarti pengingkaran. Orang mukmin yang melanggar hal-hal yang dilarang agama atau tindakannya tidak sesuai dengan tujuan agama maka bisa dikatakan ia adalah kafir atau orang yang ingkar. Misalnya, seorang pemimpin mukmin atau Islam yang melakukan korupsi, pada hakikatnya adalah kafir karena melakukan perbuatan yang berseberangan dengan ajaran Islam. Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai berteman, bekerjasama ataupun menjadikan orang seperti ini sebagai pemimpin karena dikhawatirkan mereka akan mengajak kita melanggar larangan agama.



[1] Hamka. Tafsir Al-azhar, Singapura: Pustaka Nasional, 1999, juz 2, hlm. 412.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, vol.3, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hlm. 114.
[3] Ibid., hlm. 115-116.
[4] www.shiasource.org/tafsir al-mizan.
[5] Ibid. Vol 3, hlm. 59.
[6] Ibn Taimiyyah, Tugas Negara Menurut Ibn Taimiyah, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm. 13.
READ MORE

NAMA-NAMA IBLIS

Posted on with No comments
Jenis iblis yang menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan itu banyak sekali. Bahkan ada ulama berpendapat bahwa dalam menyesatkan manusia, iblis mempunyai spesifikasi keahlian tersendiri sesuai dengan bidangnya. Yang ahli mengoda orang shalat tugasnya hanya mengoda orang shalat, yang ahli mengkufurkan orang yang beriman tugasnya hanya mengkufurkan dengan berbagai tipu daya dan propaganda yang menyesatkan, begitu seterusnya.
Mengenai hal ini ada keterangan yang bersumber dari sahabat Umar bin Khatab: “Bahwa keturunan iblis yang mempunyai tugas mengoda dan menjerumuskan manusia (ke lembah kesesatan) itu ada sembilan, yaitu:[1]
1.     Iblis Zailatun
Iblis ini bertugas untuk menjerumuskan para pedagang dipasar agar berdusta, mau mengurangi timbangan, dan melakukan bujuk rayu kepada para pedagang agar melakukan penyimpangan dan kecurangan dalam aqad jual beli, dengan iming-iming agar cepat kaya.
Ajakan iblis di atas itu jelas bertentangan dengan syari’ah, merusak ekonomi umat, menanamkan mental binatang yang segala cara dalam meraih kesuksesan, serta menumbuhkan jiwa egoistisme dan materialisme yang membabi buta. Kalau ini sudah ditanamkan oleh iblis, maka dengan sendirinya orang itu akan senang berenang dalam lumpur kemaksiatan.[2]
2.     Iblis Wawatsin
Iblis Wawasin adalah iblis yang bertugas mengoda dan menjerumuskan orang yang beriman agar selalu mengerutu, tidak sabar dan tidak iklas setiap kali menerima musibah, atau cobaan dari Allah. Padahal orang yang meratapi musibah dengan menggerutu sampai merobek-robek pakaiannya adalah dosa. Tindakan seperti ini merupakan cermin dari ketidak-iklasan atas takdir Allah, sepertinya ia menyalahkan Allah, yang menghilangkan kesenangan dirinya, padahal semua apa yang ada di alam ini telah ditentukan oleh Allah masanya atau kehancuranya.[3]
3.     Iblis Akwan
Iblis jenis ini bertugas menyesatkan dan mempengaruhi para remaja dan pimpiman umat supaya selalu berbuat dzalim, menjauhi hal-hal yang Ma’ruf menanamkan berbuat mungkar dan maksiat. Cara yang digunakan iblis Akwan dalam menjerumuskan remaja yang beriman ke dalam lembah kemaksiatan adalah bermacam-macam. Perbuatan yang jelas mungkarnya itu dikemas dengan baik sehingga tidak terkesan sebagai perbuatan maksiat, hal ini dilakukan oleh iblis Akwan untuk menarik simpati dari remaja beriman agar mau melakukanya.[4]
4.     Iblis Hafaf
Iblis ini bertugas menyesatkan dan menjerumuskan kaum muslimin kelembah nista yang berlumur dosa dengan cara melakukan tipu daya dan bujukan agar kaum muslimin melangengkan minum khamer. Sebab jika seseorang sudah minum khamer dan mabuk, maka segala bentuk kemungkaran yang lain dengan mudah ia laksanakan, seperti berzina, membunuh, berbuat aniaya, mencuri dan segala kemungkaran yang lain.[5]
5.     Iblis Wamurah
Iblis Wamurah ini bertugas menjerumuskan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, mengajak berbuat mungkar, serta lagu-lagu yang bersyairkan kebebasan tanpa etika. Juga menjerumuskan para penyanyi agar berpenampilan seronok, yang dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat. Dengan demikian, orang akan mudah digiring untuk dijebloskan dalam dunia mungkar dan maksiat. Nyanyian dan biduannya itu termasuk salah satu alat iblis yang paling ampuh untuk menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan yang penuh dengan lumuran dosa.[6]
6.     Iblis Laqwas
Iblis Laqwas adalah iblis yang bertugas mempengaruhi manusia agar tetap kafir, tetap musyrik dan tetap menyembah berhala atau sesembahan lainya selain Allah. Sudah banyak orang yng disesatkan oleh iblis Laqwas, terkadang ia menganti bentuknya menjadi “Syeikh” lalu memberikan pelajaran atau tuntunan mengarah kepada kemusyrikan.[7]
7.     Iblis A’war
Iblis ini bertugas untuk mempengaruhi dan mengoda laki-laki dan perempuan untuk berbuat zina, atau melakukan perbuatan maksiat lainya. Iblis A’war mengunakan “pandangan mata” sebagai cara yang paling ampuh untuk membakar nafsu kaum lelaki dan wanita untuk berbuat maksiat.[8]
8.     Iblis al-Wasnan
Iblis ini tugasnya mengencingi orang supaya malas bangun untuk beribadah. Jika orang sudah malas bangun malam untuk beribadah berarti dirinya mementingkan tidurnya, tidak mementingkan kehidupanya nanti di akhirat.[9]
9.     Iblis Dasim
Iblis satu ini bertugas untuk mempengaruhi, mengoda dan mendorong suami-istri untuk melakukan penyelewengan. Dengan terjadinya penyelewengan, maka sudah tentu rumah tangganya menjadi berantakan, tidak harmonis, jauh dari kebahagian dan pada akhirnya akan terjadi perceraian.[10]




[1] Fuad Kauma, Wajah-wajah Iblis, cet 1, (Jakarta: Radar Karya, 1999), 3
[2] Ibid, 6.
[3] Ibid, 3.
[4] Ibid., 8.
[5] Ibid.,10.
[6] Ibid., 12-13.
[7] Ibid.
[8] Ibid., 15-16
[9] Ibid., 17.
[10] Ibid., 18.
READ MORE

KEMATANGAN BERAGAMA

Posted on with No comments
Dalam studi psikologis, kematangan beragama bisa disebut dengan religious maturity atau maturitas agama. Seperti yang dikemukakan oleh Djami’atul Islamiyah dalam Jurnal Attarbiyah maturitas adalah
the state exiting when somatic, psychic and mental differentiation and integration are complete and consolidated, and when there is readness to fuilfial tasks facing the  individual  at  any  given  time  and  to  cope  with  the demans made by life”. 
Kondisi kematangan yakni satu kondisi dimana differensiasi dan integrasi antara badan, jiwa dan mental telah sempurna dan berkonsolidasi, dan ketika telah ada kesiapan dari individu dalam menghadapi tuntutan kehidupan.[1] 
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa maturitas agama dapat dipahami sebagai suatu kondisi ideal dari perkembangan keagamaan seseorang sebagai hasil dari proses penghayatan terhadap ajaran agamanya. Menentukan kriteria kematangan beragama bukanlah suatu yang mudah. Oleh karena itu, menurut Allport, kriteria kematangan beragama akan lebih objektif digambarkan berdasarkan teori yang dapat dipertahankan tentang kepribadian seseorang. Dia menggambarkan kepribadian sebagai
the dynamic organization with in the individual of those psycophysical system that determine his characteristic behavior and thought”.
Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikophistik yang menentukan karakteristik perilaku dan pola pikirnya.[2]
Seperti yang dikemukakan oleh Allport dalam jurnal Attarbiyah oleh Djami’atul Islamiyah. Kepribadian yang matang ditandai oleh tiga hal:
1.       The Explanding Self
Kepribadian yang matang memiliki kemampuan untuk memperluas interes pribadi, tidak hanya bersifat egosentris tapi mampu mengembangkan interes pribadinya pada obyek-obyek dari nilai-nilai ideal di atas keinginan materi belaka.
2.       Self Objectivication
Artinya, memiliki kemampuan untuk memahami dirinya sendiri secara objektif. Pada pribadi-pribadi yang matang dia akan mampu melihat dirinya sendiri seperti orang lain melihat dirinya (kemampuan insight) dan mampu mempertahankan hubungan secara positif dengan objek-objek di luar dirinya.  Sekalipun dia menyadari akan adanya ketidak-harmonisan.
3.    Unifying Philosophy of life
Kepribadian yang matang ditandai oleh filsafat hidup yang menyatu dalam kehidupannya secara praktis.
Dari teorinya tentang kepribadian tersebut. Allport menggambarkan beberapa kriteria kematangan beragama sebagai berikut:
1.       Well-differentiated dan self critical
Allport menyebut beraneka ragam interes yang ada dalam sentimen keberagamaan sebagai “differentiation, misalnya sentimen keagamaan yang tertuju pada Tuhan, pada kebaikan dan lain-lain, sedang apa yang disebut  sentimen adalah pikiran dan perasaan yang terorganisasi dan terarah pada suatu objek tertentu. Mereka yang berkembang pada suatu “differentiated sentiment seringkali menunjukan suatu sikap penyerahan diri yang tidak kritis. Sedang  self critical dimaksudkan bahwa agama yang matang mampu melahirkan sikap diri yang kritis terhadap agama, pada saat yang sama ketika dia tetap loyal pada agamanya. Singkatnya, sentimen keagamaan pertama kali adalah dibedakan hal-hal yang baik atau kritik terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain, orang mulai sadar untuk bertahan ketika agama dikritik.
2.       Dynamic in character
Agama  yang  matang  memiliki  kekuatan  motivasi  tersendiri  atau sering disebut sebagai “fungsional outonomy hingga terbebas dari dorongan-dorongan yang semata-mata bersifat organis seperti rasa takut, keleparan, atau keinginan-keinginan yang bersifat jasmaniah. Karenanya, maka pada pribadi-pribadi yang matang agamanya, agama mempunyai karakter motivasional yang autentik dan dapat merupakan sandaran-sandaran penting dalam hidupnya.
3.       Productive  of a consistent morality
Agama yang matang biasanya ditandai oleh moralitas yang konsisten.  Dalam konteks ini, perkembangan logika dipengaruhi oleh motivasi agama yang memiliki kekuatan terhadap perilaku seseorang.
4.       Comprehensive
Yang berhubungan dengan konsistensi kematangan beragama adalah comprehensive sebagai filosofi kehidupan. Dalam konteks ini, Allport hendak mengatakan bahwa point penting dari keyakinan yang komprehensif salah satunya adalah mengedepankan sikap toleransi.
5.       Integral
Dalam artian orang yang memiliki kematangan beragama pasti dalam hidupnya akan menemukan keharmonisan dan kedamaian sesuai dengan tujuan awalnya untuk dekat dengan Tuhan.
6.       Fundamentally heuristic
Pada pribadi-pribadi yang matang agamanya akan selalu berusaha mencari hal-hal yang dapat menjelaskan kepercayaannya dan memantapkan untuk mencari kebenaran yang diajarkan agama. Dengan demikian, wawasan keagamaan seseorang akan semakin luas dan berkembang.[3]
Menurut Allport, keenam karakteristik tersebut di atas pada dasarnya merupakan aplikasi dari tiga kriteria kematangan kepribadian. Oleh Karena itu, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang matang agamanya pastilah orang-orang yang matang kepribadiannya. Sementara kematangan beagama dalam pandangan William James lebih menitik beratkan pada pengalaman keagamaan yang telah direngkuh seseorang dalam rangka mencari jati diri dan makna hidup yang sebenarnya. James menggambarkan orang-orang yang matang agamanya memiliki empat kriteria:[4]
1.       A Feeling of being a wide life than that of this world’s selfish little interests: and a conviction, not merely intellectual, but as it were sensible, of the existence of an ideal power. Artinya, merasakan makna kehidupan lebih luas lebih dari interes-interes kehidupan yang rendah dan merasakan adanya suatu keyakinan tentang eksistensi ideal power (Tuhan) bukan semata bersifat intelektual tetapi keyakinan itu dapat dirasakan. Kondisi batin semacam ini akan melahirkankehidupan yang astetik dengan ciri utamanya adanya perasaan senang “berkurban” sebagai loyalitasnya kepada Tuhan.
2.       A sense of the friendly continuity of the ideal power with our own life, and a willing self surrender to its control. Dengan kata lain orang yang matang agamanya memiliki perasaan secara kontinu yang begitu dekat dengan Tuhan dan kehidupanya, dan suatu penyerahan diri pada pengawasannya. Kondisi batin seperti ini akan memunculkan strength of soul, sehingga jauh dari ketakutan dan kecemasan.
3.       An immense relation and freedom as the outlines of the confining self hood melt down. Orang-orang yang matang agamanya akan merasa bahagia dan perasaan bebas yang luar biasa karena batas-batas keakuan diri telah melebur. Konsistensinya akan muncul sikap “purity dengan salah satu cirinya adalah semakin bertambahnya perasaan peka terhadap hal-hal yang bertentangan dengan semangat spiritual. Singkatnya, yaitu memberi pengaruh signifikan terhadap stabilitas dan konsistensi emosi seseorang, sehingga perubahan emosi tersebut dapat terkontrol dengan sempurna dan tanpa mengedepankan ego yang berlebihan.
4.       A  shifting  of  the  emotional  centre  towards  loving  and  harmonious affections, toward “yes” and away from “non”, where the claims of the non  ego are concerned. Artinya, perubahan pusat-pusat emosi ke arah cinta kasih dan keharmonisan atau menurut istilah James dari emosi “no menjadi “yes”, yang berkenaan dengan klaim yang bersifat non-ego. Kondisi semacan ini akan membentuk sikap “charity yaitu kedermawanan dan cinta terhadap sesama makhluk.
Sedangkan Wiemans menggambarkan satu kesatuan norma atau standar untuk mengukur perkembangan agama seseorang. Standar ini merupakan standar ideal:
1.       Memiliki daya guna secara objektif bagi kemanusiaan.
2.       Memiliki loyalitas yang menyeluruh.
3.       Sensitif dalam merasakan dan membedakan nilai.
4.       Memiliki loyalitas yang berkembang.
5.       Mempunyai efektifitas sosial.[5]
Berbeda dengan Allport, James, Wiemans dan Clark menyusun 10 pertanyaan untuk menilai kematangan beragama seseorang.
1.       Apakah agama seseorang merupakan kebutuhan primer ataukah hanya semata imitatif?
2.       Apakah agama bagi seseorang cukup fresh?  Artinya, apakah agama dapat menimbulkan perasaan keingin tahuan yang segar?
3.       Apakah agama dapat menimbulkan sikap self critical? Artinya apakah agama dapat membentuk seseorang untuk bersikap kritis terhadap “kelemahan” agamanya pada saat yang sama ketika dia tetap loyal pada agama tersebut.
4.       Apakah agama bebas dari magic? Artinya, apakah agama bagi seseorang dipandang sebagai cara untuk mengharmonisasikan kehidupan dengan Tuhan? Ataukah agama tersebut bersifat a genuine religion?
5.       Apakah agama cukup memberi makna dinamis? Artinya, apakah agama memberikan arti yang penuh bagi kehidupannya dan membawa suatu perubahan bagi sikap dan tingkah lakunya?
6.       Apakah agama bagi seseorang cukup terintegrasi? Artinya, agama dapat meliput seluruh aspek kehidupan sehingga menimbulkan konsistensi moral.
7.       Apakah agama bagi seseorang memiliki efektifitas sosial? Dengan kata lain, apakah agama bagi seseorang cenderung memperkuat rasa kemasyarakatan seseorang dengan orang lain dan tanggung jawab pada masyarakat secara luas.
8.       Apakah agama bagi seseorang mampu melahirkan sikap rendah hati?
9.       Apakah agama bagi seseorang berkembang? Adakah kepercayaan terhadap agama seseorang mengalami perkembangan baik dalam hal pencarian kebenaran yang lebih maupun pada progresivitas yang lebih luas.
10.    Apakah agama bagi seseorang melahirkan sikap kreatif? Artinya, apakah agama bagi seseorang memperkembangkan nilai yang dimilikinya dan menunjukan karakteristik dirinya sendiri? Ataukah hanya sekedar merupakan pengulangan yang berasal dari orang lain.[6]
   




[1] Djami’atul Islamiyah. 2006. Jurnal Attarbiyah: Studi Psikologis Tentang Kematangan Beragama. Salatiga, h. 17.
[2]Ibid., h. 18.
[3] Ibid., h. 19-21.
[4] Ibid., h. 21-22.
[5] Ibid., h. 22.
[6] Ibid., h. 23.
READ MORE

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter