Seputar Fiqih

Seputar Tasawuf

Seputar Islam

NASIONALISME DALAM ISLAM

Posted on with No comments
Paham kebangsaan (Nasionalisme) yang pertama kali memperkenalkan kepada umat Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas, seperti telah diketahui, setelah Revolusi 1789, Perancis menjadi salah satu negara besar yang berusaha melebarkan sayapnya. Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan salah satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir beragama Islam, tetapi mereka berasal dari keturunan orang-orang Turki. 
Napoleon mempergunakan sisi ini untuk memisahkan orang-orang Mesir dan menjauhkan mereka dari penguasa dengan menyatakan bahwa orang-orang Mamluk adalah orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon memperkenalkan istilah al-Ummat al-Mishriyah, sehingga ketika itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah amat dikenal, yaitu al-Ummah al-Islamiyah al-Ummah al-Mishriyah dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada perkembangan selanjutnya lahirlah ummah lain, atau bangsa-bangsa lain.[1]
Islam pada awalnya memiliki citra dan cerita yang positif karena penyebarannya dengan jalan damai dan berperan dalam peningkatan peradaban manusia. Bahkan secara politis, Islam telah menjadi kekuatan dominan yang mampu menyangga dan mempersatukan penduduk nusantara yang bertebaran ini ke dalam sebuah identitas baru yang bernama Indonesia, sekalipun pada akhirnya secara legal formal ikatan ke-Indonesia-an ini diatur dan diperkuat oleh administrasi dan ideologi negara.”[2]
Perlu diketahui bahwa dalam sejarah Indonesia mencatat terdapat beberapa gerakan separatis diberbagai daerah Indonesia yang ingin pisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seperti di Aceh ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM), di Papua Barat (Irian Jaya) ada Organisasi Papua Merdeka (OPM), Timor-Timur (pada tahun 1998 akhirnya lepas dari NKRI), di Maluku Front Kedaulatan Maluku separatis Republik Maluku Selatan (FKM/RMS), Gerakan Separatis Tragedi Nasional G 30 S/PKI Tahun 1965, Pemberontakan  Permesta, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemberontakan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII), Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948. Maka dalam hal ini tidak dapat kita pungkiri bahwa paham kebangsaan (Nasionalisme) sangat dibutuhkan sekali guna untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam menjaga kedaulatan negara dapat diwujudkan dengan menjaga prinsip-prinsip atau unsur-unsur Nasionalisme diantaranya: persatuan, cinta tanah air, patriotisme, pluralisme, kebebasan, keadilan dan lain-lain. Inilah yang harus terus-menerus kita perjuangkan dalam negara ini demi menjaga keutuhan negara. Salah satu dari pada unsur Nasionalisme adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks keindonesiaan yang masyarakatnya majemuk, baik dari segi agama, suku, bahasa dan bangsa, maka menjaga persatuan dan kesatuan adalah sebuah keniscayaan. Mengingat wilayah Indonesia yang terdiri dari berbagai kepulauan yang “dipisahkan” sekaligus dihubungkan dengan lautan. Kekuatan ini tidak mungkin diraih tanpa adanya persatuan dan kesatuan. 
Persatuan dan kesatuan ini tidak akan tercapai tanpa adanya persaudaraan dan kebersamaan serta  kemauan untuk saling  menghormati satu  sama  lain  atau  dengan  kata  lain disebut pluralisme. Hal tersebut ditegaskan dalam surat al-Hujurat ayat 13, bahwa Allah Swt menciptakan manusia dari satu keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras manusia), agar mereka saling mengenal potensi masing-masing dan memanfaatkan semaksimal mungkin. Ini berarti bahwa al-Qur’an merestui pengelompokan berdasarkan keturunan selama tidak menimbulkan perpecahan, bahkan mendukung demi mencapai kemaslahatan bersama.
Sebagaimana di dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 52, Allah Swt memerintahkan kita untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Ayat tersebut juga dikuatkan dengan surat Ali Imran ayat 103 yang melarang kita untuk bercerai berai. Demikian halnya dalam surat al-Anfal ayat 46 juga melarang kita saling berbantah-bantah atau berselisih, sebab hal itu akan membuat lemah kekuatan kita. Sebagai seorang muslim dan sekaligus sebagai warga negara Indonesia, umat itu mengacu pada suatu kelompok masyarakat yang dihimpun oleh sesuatu, baik persamaan agama, waktu, atau tempat, baik pengelompokan secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri.
Dalam al-Qur’an ditemukan kata “ummat” yang digandengkan dengan kata “wahidah” sebanyak sepuluh kali. “Ummah wahidah” berarti umat yang satu. Tidak pernah ditemukan frasa “tauhid al-ummah” (penyatuan umat). Ini memberi isyarat bahwa al-Qur’an lebih menekankan sifat umat yang satu, bukan penyatuan umat. Sebab penyatuan umat terkesan adanya penyeragaman, sehingga kebhinekaan justru dinafikan. Jadi, multikultural sangat dihargai oleh al-Qur’an. Sementara frasa “ummah wahidah” berarti ummat yang satu, meskipun umat manusia itu berbeda-beda, tetapi tetap bisa menjaga persatuan. 
Dalam konteks bernegara, paham Nasionalisme menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Sedangkan Nasionalisme religius adalah paham kebangsaan yang dilandasi oleh nilai dan semangat keagamaan. Artinya agama menjadi spirit dan nilai untuk menegakkan suatu negara yang adil dan makmur. Dengan kata lain, hubungan agama dan negara bisa bersifat simbiotik mutualisme yang saling menguntungkan. Namun demikian, jangan sampai terjadi politisasi agama untuk kepentingan pragmatis bagi para elit negara.  Jangan sampai Nasionalisme di sini ditunggangi oleh elit tertentu untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan samata. Untuk itu, diperlukan kritik dan “oposisi loyal” terhadap pemerintah, agar pemerintah atau negara tidak melakukan politisasi agama demi mengamankan kekuasaan.



[1] Muhammad Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Tafsir Maudhu’i  Atas Pelbagai Persoalan Umat),  (Bandung: Mizan, 1996), Cet. 13, h. 329
[2] Zainuddin Maliki, Agama Rakyat Agama Penguasa, (Yogyakarta: Galang Press, 2000), h. xxv
READ MORE

MACAM-MACAM ISTRI

Posted on with No comments
Kajian kaidah tafsir tentang term imraah dan zawj bahwa term imraah konotasi maknanya lebih mengarah kepada istri yang tidak beriman atau istrinya orang yang tidak beriman, sedangkan zawj maknanya lebih mengarah kepada istri yang beriman. Berikutnya, kata imraah maknanya lebih mengarah istri dunia, dan kata zawj konotasi maknanya lebih mengarah kepada istri dunia akhirat atau akhirat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istri dikelompokkan menjadi tiga macam; yaitu istri dunia, istri dunia akhirat dan istri akhirat.
1.   Istri Dunia-Akhirat
Yang dimaksud dengan istri dunia-akhirat adalah istri yang dapat hidup berdampingan di dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan istri dunia dan akhirat dilambangkan dalam al-Qur’an dengan term zawj. Sedangkan rahasia dibalik penyebutan dengan term zawj menurut Ibn Qayyim mengindisikan makna pasangan yang berarti selalu bersamaan.[1] Ketika suami-istri dapat hidup berdampingan di dunia dengan hidup berkeluarga dan di akhirat dapat berdampingan hidup di surga, maka dinamakan istri dunia-akhirat.
Istilah istri dunia dan akhirat sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Saw melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari sebagai berikut:
Diceritakan dari al-Hakam, aku mendengar Abu Wa'il berkata; “Ketika 'Ali mengutus 'Ammar dan al-Hasan ke kota Kufah untuk mengerahkan mereka berjihad, 'Ammar menyampaikan khutbah. Katanya; “Sungguh aku mengetahui bahwa dia (maksudnya ‘Aisyah) adalah istri beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) di dunia dan akhirat, akan tetapi sekarang Allah menguji kalian, apakah akan mentaati-Nya (mentaa'ti ‘Ali radliallahu ‘anhuma sebagai pemimpin yang berarti mentaati Allah) atau mengikuti dia (‘Aisyah radhiyallahu ‘anha).”[2]
Hadis di atas menjelaskan bahwa ‘Aisyah adalah istri dunia-akhirat. Ini menunjukkan bahwa istilah istri dunia-akhirat sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw. Selain hadits di atas, istilah istri dunia-akhirat ini juga telah digambarkan dalam ayat al-Qur’an surat al-A’raf ayat 19.
وَيَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
(dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua Termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. al-A’raf:19)
Dalam surat al-‘A’raf ayat 19 yang dimaksudkan zawj adalah Hawa istri Nabi Adam. Hawa adalah istri yang mukmin dan suaminya sudah tentu juga orang mukmin. Oleh sebab itu Hawa termasuk istri dunia-akhirat karena di dunia hidup berdampingan dan di akhirat tentunya juga akan bersama-sama hidup berdampingan di surga Allah Swt.
2.   Istri Dunia
Istri dunia ini terdiri dari dua macam, yaitu istri yang tidak beriman dan istrinya orang yang tidak beriman.
a.     Istri yang tidak beriman dalam al-Qur’an dicontohkan dengan dua bentuk, yaitu:
1)     Istri tidak beriman dan suami juga tidak beriman, digambarkan dalam surat Yusuf ayat 30, 51 dan al-Masad/al-Lahab ayat 4:
وَقَالَ نِسْوَةٌ فِي الْمَدِينَةِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ تُرَاوِدُ فَتَاهَا عَنْ نَفْسِهِ قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا إِنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya). Sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yusuf:30)
قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): “Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Maha sempurna Allah, Kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya.” Berkata istri al-Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Yusuf:51)
Yang dimaksudkan imraah pada dua ayat tersebut di atas adalah istri penguasa kota Mesir yang disebut dengan al-‘Aziz, dengan nama asli Qithfir bin Ruhaib atau Futhifar seorang menteri bidang keuangan. Sedangkan nama istri al-‘Aziz tersebut adalah Zalikha atau Zulaikha atau Ra’il binti Ra’abil.[3]
Zulaikha pada waktu menjadi istri al-‘Aziz masih belum beriman berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa ia pernah berkata pada Yusuf, “Saya malu pada berhala ketika melihat kita,”[4] meskipun setelah suaminya meninggal dan akhirnya menjadi istri Nabi Yusuf, ia beriman.[5]
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. (Qs. al-Masad/al-Lahab:4)
Imraah yang dimaksud dalam ayat ini adalah istri Abu Lahab yang bernama Ummu Jamil.  Nama aslinya adalah Arwa binti Harb bin Umayyah.[6] Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. Istri Abu Lahab disebut pembawa kayu Bakar karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan Nabi Muhammad dan kaum Muslim. Istri Abu Lahab dikategorikan istri dunia karena di akhirat nanti mereka akan dimasukkan di dalam neraka sehingga keduanya tidak dapat hidup berdampingan. 
2)     Istri tidak beriman dari suami yang beriman, sebagaimana diantaranya digambarkan dalam surat al-Tahrim ayat 10.
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir.  keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (Qs. al-Tahrim:10)
Imraah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah istri Nabi Nuh yang bernama Walihah, sedangkan Imraah Luth itu adalah istri Nabi Luth yang bernama Wali’ah. Keduanya merupakan istri yang tidak beriman sehingga meskipun di dunia dapat berdampingan sebagai suami-istri, namun nanti di akhirat akan terpisah dari suaminya. Untuk itu keduanya penulis kategorikan istri dunia. 
b.     Istrinya orang yang tidak beriman, digambarkan dalam al-Qur’an surat al-Qashash ayat 9 dan al-Tahrim ayat 11.
وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan berkatalah istri Fir'aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.  janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak,” sedang mereka tiada menyadari. (Qs. al-Qashash:9)
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (Qs. al-Tahrim:11)
Kedua ayat di atas menggambarkan istri Fir’aun yang bernama Asiyah binti Muzahim. Dia dikategorikan istri dunia karena di dunia menjadi istri Fir’aun, namun di akhirat ia akan terpisah dari Fir’aun. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits:   
Diriwayatkan dari Ibn Abbas, dia berkata, “Rasulullah membuat 4 garis di atas tanah, lalu bersabda, “tahukah kalian, apakah ini?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.”[7]
Imam al-Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits berkenaan dengan istri Fir’aun sebagai berikut;
Diriwayatkan dari Abi Musa al-Asy’ari dari Nabi, beliau bersabda, “banyak orang laki-laki yang sempurna dan orang perempuan tidak ada yang sempurna kecuali Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwalid dan meskipun ‘Aishah mengungguli perempuan bagaikan keunggulan bubur tsuraid atas segala makanan.”[8]
Kedua hadits tersebut di atas menguatkan pernyataan tentang masuknya surga atas Asiyah binti Muzahim, dan menjelaskan bahwa dia termasuk wanita mulia yang akan masuk surga dan akan menjadi istri Nabi Muhammad Saw di surga.[9]
3.   Istri Akhirat
Yang dimaksud istri akhirat disini adalah istri yang disediakan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman ketika masuk surga. Istri akhirat ini banyak disebutkan dalam al-Qur’an, diantaranya: surat al-Baqarah ayat 25, Ali ‘Imran ayat 15, al-Nisa’ ayat 57.
قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Qs. al-Baqarah:25)
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ali ‘Imran:15)
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai istri-istri yang Suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.” (Qs. al-Nisa’:57)
Yang dimaksudkan azwaj dalam ayat-ayat tersebut di atas adalah istri-istri ahli surga, diantaranya mereka merupakan para bidadari yang telah disiapkan oleh Allah Swt di surga sebagi istri-istri ahli surga. Istri-istri ini penulis kategorikan istri akhirat, karena hanya di akhirat saja mereka dipertemukan Allah Swt sebagai istri.



[1] Ibn Qayyim al-Juziyah, Tafsir al-Qur’an al-Karim Ibn Qayyim, (Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1410 H), 134
[2] Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih, (Kairo: Dar al-Shi’ib, 1987), Vol. V, 37.
[3] Wahbah bin Musthafa al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syariah wa al-Manhaj, (Damaskus, Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H), Vol. XII, 234.
[4] Al-Tsa’labi, al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ihya’ al-Turathi al-‘Arabi, 1422 H.), Vol. V, 213.
[5] Ahmad bin Iyas, Bada’i al-Zuhur fi Waqa’i al-Duhur, (Surabaya, Al-Hidayah, t.tp.), 102.
[6] Ibn ‘Ashur, Al-Tahrir wa al-Tanwir, (Tunisia, al-Dar al-Tunisiah li al-Ashr, 1984), Vol. XXX, 605.
[7] Muammad Ibn Hanbal, Musnad Ibn Hanbal, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001), Vol. IV, 409.
[8] Al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih, (Kairo: Dar al-Shi’b, 1991), Vol. IV, 193.
[9] Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiyah al-‘Allamah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, (Semarang: Usaha Keluarga, t.tp.), Vol. IV, 224.
READ MORE

ETIKA BERPOLITIK MASYARAKAT JAWA

Posted on with No comments
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, segala bentuk perbuatan telah diatur dalam sebuah norma dimana apabila seorang Jawa dapat melakukan sesuatu sesuai dengan norma tersebut maka orang tersebut dapat dikatakan orang yang memiliki kepribadian luhur. Aktualisasi dari kepribadian luhur adalah budi pekerti yang kemudian dinyatakan dalam bentuk etika. Dalam pandangan masyarakat Jawa terdapat beberapa norma atau etika yang seharusnya dilakukan oleh Masyarakat Jawa khususnya agar dapat mencapai pada tataran Kepribadian Luhur. Dalam tulisan ini akan dijelaskan etika berpolitik menurut etika Jawa.
1.     Etika Politik Itu Agung
Etika politik dipahami sebagai perwujudan sikap dan perilaku jujur, santun, memiliki integritas, menerima pluralitas, memiliki keprihatinan untuk kesejahteraan umum dan tidak mementingkan golongan. Jadi, politikus yang menjalankan etika politik adalah negarwan yang memiliki keutamaan-keutamaan moral (idealnya).
Berbicara soal etika politik, biasanya terfokus pada perilaku politikus dalam kejujuran; korupsi; premanisme; manipulasi; etika politik sekaligus sebagai etika individual dan sosial. 
2.     Etika Berkampanye
Kampanye adalah sebuah komunikasi untuk merebut suara. Dalam dunia Jawa mengikuti aturan kampanye yang ditetapkan oleh Islam yaitu:
a.     Ikhlas dan membebaskan diri dari motivasi rendah.
b.     Partai yang baik dan program yang bagus harus disampaikan dengan cara yang baik pula.
c.      Bersifa tidak memaksa.
d.     Tidak jatuh pada dosa dan bohong.
e.     Tidak mengucapkan janji secara berlebihan.
f.      Tidak jatuh dalam Ghibah.
g.     Tetap menjaga rasa ukhuwah dan Islamiyah dalam berkampanye.
h.     Tidak memuji diri sendiri.
i.       Begitulah etika yang semestinya dibangun dalam kampanye.
Anehnya, sering ada pelanggaran etika ketika carut-marut poitik saling terjang satu sama lain. Ketika benefalence (baik budi) sering dijadikan sebagai alat untuk berkampanye yang melunturkan etika.
3.     Etika Politik Gaya Sengkuni
Dalam ilmu politiknya ada beberapa sub yang dilakukan oleh sengkuni, diantaranya adalah:
a.     Sengkuni bertopeng tradisi dan berpayung agama.
b.     Sengkunisme sangat menggiurkan bagi masyarakat sehingga masyarakat tertarik oleh akal liciknya.
Moralitas Jawa itu suatu kandungan keadaran hati terdalam yang bertindak yang tidak gegabah, pantas, murwat, dan penuh pertimbangan. Moral itu etika Jawa. Orang yang bermoral sehat, etikanya juga bagus. Orang yang bagus moralnya juga memilih keutamaan dalam bertindak. Itulah sebabnya, Penguasa atas moral itu sangat penting, yang membekali diri agar seseorang memiliki keutamaan moral.[1]



[1] Suwardi Endaswara, Etika Hidup Orang Jawa, (Jakarta: Suka Buku, 2010), hlm. 151.
READ MORE

MENCARI ULAMA PEWARIS NABI

Posted on with No comments
Kata ulama adalah bentuk jamak dari kata ‘alim. Kata ini berasal dari akar kata ‘alimaya’lamu – ‘ilman. Di dalam berbagai bentuknya, kata ini disebut 863 kali di dalam al-Qur’an. Masing-masing dalam bentuk fi’il mai 69 kali; fi’il muḍāri’ 338 kali; fi’il amr 27 kali dan selebihnya dalam bentuk isim dalam berbagai bentuknya sebanyak 429 kali.
Ibnu Faris di dalam Mu’jam Maqāyisil Lughah menyebutkan bahwa rangkain huruf ‘ain, lam, dan mim, pada asalnya memiliki arti yang menunjuk pada tanda atau jejak pada sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Dari akar kata ini, diantaranya lahir turunan kata berikut: al-‘alamah (tanda, yakni yang dikenal), al-‘Alam (bendera atau panji), dan al-‘ilm (tahu), lawan dari kata al-Jahl (tidak tahu).[1]
Kata ‘ulama jama’ dari kata ‘ālim (عالم) yang berarti mengetahui sedangkan kata (عليم) ‘alīm/Maha mengetahui merupakan Shīghāt Mubalaghah yaitu bentuk isim fa’il yang menunjukan arti sangat atau maha. Kata ālim (عالم) juga memiliki bentuk jama’ muzakar salim yakni ‘ālimun (عالمون) atau ‘ālimīn (عالمين) disebut lima kali di dalam al-Qur’an.[2] Digunakan, antara lain, untuk menunjuk kepada orang-orang yang mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah maupun tamil-tamil yang diungkapkannya, serta mereka yang mampu mena’wilkan mimpi. Misalnya di dalam al-Qur’an surat al-‘Ankabūt ayat 43,[3]ālimun disebutkan dalam konteks pengecualian bahwa yang bisa memahami perumpamaan-perumpamaan yang dibuat Allah bagi manusia hanyalah al-‘Ālimūn (orang-orang yang mengetahui).[4]
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) ulama diartikan sebagai orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.[5] Dalam Ensiklopedi Islam, definisi ulama adalah orang yang tahu atau yang memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah.[6]
Adapun bila kata ulama itu dihubungkan dengan perkataan yang lain, maka artinya hanya mengandung arti terbatas dalam hubungannya itu. Misalnya “ulama fiqih” artinya orang mengerti tentang ilmu fiqih, “ulama kalam” artinya orang yang mengerti tentang ilmu kalam, “ulama hadi”, artinya orang yang mengerti tentang ilmu hadi, “ulama tafsir”, artinya orang yang mengerti tentang ilmu tafsir, dan seterusnya, umpamanya ulama syiyasyi (politik), ulama bahasa, ulama nahwu, dan lain sebagainya.
Menurut bahasa yang berlaku sampai sekarang ini di Indonesia ini, kata ulama atau alim ulama diartikan untuk orang yang ahli tentang agama Islam, yakni orang yang mendalam ilmunya dan pengetahuannya tentang agama Islam beserta cabang-cabannya dalam urusan agama Islam, seperti ilmu tafsir, ilmu hadi, ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu bahasa Arab termasuk alat-alatnya yang disebut paramasastra seperti ilmu orof, nahwu, ma’ani, bayān, badī’, balaghah, dan sebagainya. Jelasnya orang yang faham dan mendalam ilmunya tentang agama Islam yang meliputi ‘aqidah, syari’ah, mu’amalah, akhlak.[7]
Betapapun semakin sempitnya pengertian ulama dari dahulu sampai sekarang, namun ciri khasnya tetap tidak dilepaskan, yakni ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu diajarkan dalam rangka khasyah (adanya rasa takut) kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seorang ulama harus orang Islam. Seseorang yang baru memiliki ilmu keagamaan (keislaman) seperti para ahli ketimuran (orientalis) tidak dikatakan ulama.[8]
Dari beberapa penjelasan di atas, menurut hemat penulis bahwa hakikat dari ulama adalah orang yang berilmu dan mempunyai kekuatan spiritual yang diwujudkan dalam bentuk ketakutan kepada Allah. Orang yang berilmu (ilmu agama dan ilmu kealaman) dan tidak mempunyai rasa takut kepada Allah akan tanggung jawab sebagai manusia yang berilmu yang diberi karunia oleh Allah kelebihan intelektual, maka bukan ulama yang dimaksudkan dalam al-Qur’an.
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai ulama, penulis mengkelompokkan ulama menjadi dua bagian, hal ini sejalan dengan apa yang telah  dikemukakan  oleh  Imam  al-Ghazali, yakni ulama akhirat dan ulama dunia (ulama su’).[9]
1.     Ulama Akhirat
Ulama akhirat adalah orang yang mewarisi ilmu yang bermanfaat dan amal saleh yang diwariskan oleh para nabi. Mereka juga mewarisi semangat untuk berdakwah dan ber-amar ma’rūf nahī mungkar, berjihad di jalan Allah, dan berani menanggung resiko yang harus dihadapinya demi menggapai ridha Allah. Seperti inilah amalan yang dahulu diwariskan oleh para nabi. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju jalan surga. Sungguh malaikat-malaikat merebahkan sayap-sayapnya sebagai wujud keriaan mereka kepada pencari ilmu. Sungguh seorang alim akan dimintakan ampunan oleh seluruh makhluk langit maupun bumi, bahkan ikan-ikan memintakan ampun untuknya. Sesungguhnya keutamaan ulama atas ahli ibadah ialah seperti keutamaan (cahaya) rembulan atas (cahaya) bintang-bintang. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.  Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambilnya bagian yang banyak.[10]
Ibnu Qoyyim berkata: “dalam hal ini terdapat perintah dan bimbingan kepada umat Islam untuk menaati, menghormati, mengagungkan dan memuliakan (ulama), sebab mereka pewaris para nabi yang memiliki hak untuk diperlakukan seperti ini.[11]
Menurut Badruddin Hsubky bahwa ciri-ciri ulama akhirat ialah:
Pertama, tidak memperdagangkan ilmunya untuk kepentingan dunia. Sebetulnya ulama sejatinya tidak akan mencintai dunia. Dengan kecintaannya kepada ilmu, dunia tidak lagi berarti baginya. Pada kenyataannya, tidak jarang kita melihat ulama yang mengorbankan agama dan ilmunya untuk kepentingan dunia. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dilakukan untuk mencari keridhaan Allah, ia mempelajari ilmu-ilmu itu untuk memperoleh harta-harta duniawi, ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.”
Kedua, Perilakunya sejalan dengan ucapannya dan tidak menyuruh orang berbuat kebaikan sebelum ia mengamalkannya. Ulama yang diharapkan menjadi panutan dan contoh bagi umatnya jangan sampai perilakunya bertolak belakang dengan ucapannya, mereka pandai untuk berbicara akan tetapi tidak mampu untuk mengamalkannya sendiri. Allah SWT memberi peringatan kepada kita dalam firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff [61]: 2-3)
Ketiga, Mengajarkan ilmunya untuk kepentingan akhirat, Ulama yang senantiasa memperjuangkan agama dan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar serta mengajak ke arah kebaikan dengan perantara mengajarkan disiplin ilmu kepada umatnya, hal ini yang bertujuan untuk syiar dan memperoleh kepentingan akhirat.
Keempat, Menjauhi godaan penguasa jahat. Larangan bagi para ulama untuk mendatangi pintu penguasa bukanlah larangan datang ke tempat penguasa atau larangan bekerjasama dengan penguasa bagi kepentingan masyarakat. Larangan yang dimaksud adalah larangan dalam kalimat majaz yang artinya larangan bagi para ulama untuk membenarkan tindakan atau kebijakan penguasa yang bertentangan dengan al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas.  Pembenaran ini ada kaitannya dengan materi atau kepentingan duniawi.
Kelima, Senantiasa khasyah kepada Allah, takim atas segala kebesaran-Nya, tawau’, hidup sederhana, dan berakhlak mulia terhadap Allah maupun sesamanya. Tanggung jawab ulama dalam keilmuan mereka sepatutnya memberi contoh atau teladan dalam semua aspek kehidupan, termasuk kaedah bermasyarakat dan bersosialisasi. Mereka dituntut menampilkan peribadi yang baik, jujur dan santun dalam tutur kata.
Bahasa kasar dan berbelit-belit dilarang keras, karena hasilnya akan menyebabkan khalayak keliru, aib dan marah. Luka yang diakibatkan oleh lidah hakikatnya lebih parah daripada yang diakibatkan oleh pisau. Sebaliknya, tutur kata dan perilaku yang membimbing akan melahirkan nilai-nilai kerjasama dan persefahaman sehingga setiap diri manusia disaluti kasih sayang dan berjiwa pemaaf. Itulah akhlak mulia.
Belum layak diberikan gelar ulama jika jiwa seseorang itu belum mencapai tingkatan khasyah yang benar-benar takut kepada Allah, bersikap terlalu kasar dan bengis atau memandang rendah terhadap orang awam. Apalagi jika mereka selalu plin-plan dalam percakapan atau sentiasa berubah pendirian demi memenuhi kepentingan diri atau kumpulan tertentu. Ulama yang berperilaku sombong dan lupa diri kerana ilmu yang dimilikinya tidak disusuli dengan amalan, atau menggunakan ilmu bukan atas dasar kebenaran, maka orang tersebut disebut bukan ulama melainkan orang munafik.
Keenam, Tidak cepat mengeluarkan fatwa sebelum ia menemukan dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak sedikit dikalangan kita ulama yang mudah untuk berfatwa. Bahkan mereka tidak segan menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mereka ketahui karena malu pamor mereka turun. Oleh karenanya, ulama diharapkan untuk berhati-hati dalam berfatwa, jangan sampai keluar dari dua sumber hukum Islam, yaitu al-Qur’an dan sunnah, mengingat maslahat umat lebih penting daripada urusan pribadinya.[12]
2.     Ulama Dunia (Ulama Su’)
Ulama su’ adalah ulama yang jelek. Tetapi pada umumnya orang memberi arti ulama su’ adalah ulama yang keji atau yang jahat dan tidak mengikuti jejak Nabi. Kategori ulama su’ bermacam-macam modelnya. Ada yang menjadi tukang fitnah di muka bumi, ada yang sebagai penjilat, ada yang menjual agama dan aqidah, demi hidup dengan sesuap nasi, serta ada yang rusak akhlaknya.[13] Nabi Muhammad bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku ialah para imam yang menyesatkan” (HR. Abū Dawud)[14]
Hadits ini menggunakan konteks kalimat dengan kata innamaă yang berarti pembatasan dengan tujuan untuk menyatakan keseriusan rasa takut Nabi atas musibah yang akan menimpa umatnya karena ulah para imam yang sesat. Hadits ini jelas sekali menunjukkan bahwa Rasulullah telah membuat salah satu klasifikasi ulama, yaitu muillūn: menyesatkan.  Kriteria mereka adalah sebagaimana tertera di dalam hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab ahih-nya, yaitu hadits riwayat Hudzaifah Ibnul Yaman bahwa Rasulullah bersabda:
“Sepeninggalku nanti akan muncul para imam yang tidak mengambil petunjuk dariku dan tidak melaksanakan sunnahku. Dan akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya seperti hati setan di dalam raga manusia”. (HR. Imam Muslim).[15]
Maksudnya adalah para penguasa, ulama dan ahli ibadah yang memimpin manusia tanpa dasar ilmu sehingga berakibat menyesatkan manusia.[16] Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:
“Dan diantara mereka banyak yang menyesatkan dengan hawa nafsu mereka tanpa dasar ilmu. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-An’am [6]: 119).
Dalam ayat yang lain Alah swt berfirman:
“Dan sungguh sebelum mereka telah ada banyak orang yang sesat.” (QS. a-affat [37]: 71).
Dari pengertian di atas Umar Hasyim menjelaskan bahwa ulama su’ mempunyai kriteria sebagai berikut: 
1.   Ulama yang menyembunyikan kebenaran
Allah swt berfirman:
 “Sesungguhnya orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam al-kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknati kecuali mereka yang telah bertobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran) maka Aku menerima tobat mereka dan Aku-lah yang Maha menerima tobat lagi Maha penyayang.”(QS. al-Baqarah [2] ayat 159-160).20
Ayat ini menerangkan tentang salah satu golongan ulama, yaitu mereka yang menipu umat dengan jalan menyembunyikan ilmu yang mereka peroleh dari Rasul. Ilmu yang dimaksud adalah berupa tanda-tanda yang menunjukkan kepada tujuan yang benar, dan hidayah yang bermanfaat untuk hati. Mereka menyembunyikan ilmu setelah Allah menerangkan kepada manusia melalui lisan para rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka berhak menerima ancaman keras yang setimpal dengan perbuatan mereka sendiri.
2.   Ulama yang menyelewengkan kebenaran
Allah berfirman:
“Apakah kamu mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan mereka mendengar firman Allah lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahujnya. Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata kami pun telah beriman, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata, “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang Mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu”, supaya dengan demikian dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidaklah kamu mengerti. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu ia mengatakannya “ini dari Allah” (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Baqarah [2] : 75-79).21
Ayat-ayat tersebut membeberkan segolongan orang-orang yang mendapatkan gelar ulama, tetapi mereka justru menyelewengkan gelarnya dengan dalil-dalil syar’i. Mereka mengubah berbagai ketetapan hukum yang sudah baku demi tercapainya tujuan busuk mereka. Kondisi ini tidak hanya khusus untuk umat sebelum kita, tetapi mencakup setiap orang yang menyelewengkan kebenaran demi niatan busuk.
Imam Qurṭūbī menjelaskan bahwa ayat ini dan sebelumnya berisi tentang peringatan dan ancaman keras bagi siapa saja yang mengubah dan mengganti serta menambah sesuatu yang berkaitan dengan syari’at. Siapa saja yang mengganti, mengubah, atau mengganti sesuatu yang baru dalam agama Allah yang bukan bagian dari agama dan tidak ada keleluasaan untuk menambah maka mereka masuk ke golongan manusia yang mendapat ancaman keras dan azab yang pedih sebagaimana disebutkan dalam ayat ini.[17]
3.   Ulama berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya
Allah berfirman:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti kedelai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS.  al-Jumu’ah [62]: 5).23
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa beliau menafsirkan kata “al-Asfar”, artinya kitab-kitab. Allah telah mengumpamakan orang-orang yang membaca kitab namun tidak mau mengikuti isinya, seperti keledai yang mengangkut kitab Allah yang berat, ia tidak mengetahui isinya.[18]
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafisrnya tentang ayat ini bahwa celaan terhadap orang Yahudi yang telah diberi kitab Taurat. Mereka diperintahkan untuk mengamalkan isinya tetapi mereka tidak mengamalkannya. Dalam hal itu, perumpamaan mereka adalah seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab yang berat. Maksudnya, mereka seperti keledai yang mengangkut kitab tetapi tidak mengerti apa isinya, keledai hanya akan membawanya begitu saja tanpa mengetahui apa sebenarnya yang telah ia bawa. Oleh sebab itu, apabila seorang ‘ulamā dalam mengemban tugas sebagai pewaris para nabi, akan tetapi mereka enggan untuk mengamalkan ilmunya kepada ummatnya, maka mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang telah Allah firmankan dalam al-Kitab, yaitu seperti keledai.[19]




[1] Perpustakaan Nasional; Katalog dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi al-Qur’an: Kajian Kosakata, Jakarta: Lentera Hati, Cetakan I, 2007, hal. 1017-1018
[2] Muhammad Fuad Abdul Bāqī, Mu’jam Mufahras li Al-Fāi Al-Qur’an, Beirut: Dārul Fikr, 1891, hal. 475
[3] M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya, Tanggerang: Lentera Hati, Cetakan I, 2010, hal. 402
[4] Perpustakaan Nasional; Katalog dalam Terbitan (KDT), Op. Cit, hal. 1019
[5] Tim Redaksi, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama Edisi IV, 2008, hal. 1520
[6] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Cetakan Pertama, 1993, hal. 120
[7] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Surabaya: PT. Bina Ilmu, Cetakan Kedua, 1983, hal. 15
[8] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Op. Cit, hal. 121
[9] Badruddin Hsubky, Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman, Jakarta: Gema Ihsani, Cetakan Pertama, 1995, hal. 57
[10] Muhammad bin 'Isa al-Tirmidzī, Sunan Tirmidzī, Juz 3, Lebanon: Dār al-Kutub al-'Ilmiyah-Beirut, 2011, hal. 477-478.
[11] Sufyan Al-Jazairy, Anaful Ulama Wa Auofuhum (Potret Ulama Antara Yang Konsisten & Penjilat), Terj. Muhammad Saffuddin, Solo: Jazera, Cetakan Kedua, 2012, hal. 37.
[12] Badruddin Hsubky, Dilema Ulama Dalam Perubahan Zaman, Op. Cit, hal. 57-58
[13] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Op. Cit, hal. 31
[14] Abi Dāwud Sulaiman bin Al-Asyats bin Ishāq bin Basyīr, Sunan Abī Dawud, juz 2, al-Qāhirah Mesir: Dāru Ibnu Haitsam, 2007, hal. 342
[15] Abi Al-Husain bin Al-Hajaj Ibnu Muslim Al-Qusyairī An-Naisābūri, ahih  Muslim, Jilid 2, Beirut: Dār Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2011, hal. 160
[16] Sufyan Al-Jazairy, Anaful Ulama Wa Auofuhum (Potret Ulama Antara  Yang Konsisten & Penjilat), Op. Cit, hal. 57-58
[17] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang  Pandang  Sejarah  Para Ulama), Op. Cit, hal. 47-48
[18] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang  Pandang  Sejarah  Para Ulama), Op. Cit, hal. 52.
[19] Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi (Selayang Pandang Sejarah Para Ulama), Op. Cit, hal. 52.
READ MORE

Wajib Kunjung

Google+

Pengunjung

Twitter